Saturday, April 13, 2013

Ruang yang Berjenis Kelamin dan Cucu-Cicitnya

Rangkaian kereta yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba juga. Penumpang yang sedari tadi berdiri di jalur enam ini satu per satu melangkah menuju gerbong berpendingin udara itu, KRL Commuter Line jurusan Jakarta Kota-Bogor. Saya perhatikan, mereka semua perempuan. Tak tampak satu pun penumpang lelaki menerobos masuk. Padahal, di salah satu stasiun kereta api paling sibuk di Jakarta ini, ribuan penumpang lain mengantri. Oh, gerbong itu berwarna merah muda. Seluruh gerbong. Semua dicat warna pink. Tertera satu teks besar: “Kereta Khusus Wanita”. Pantaslah, tak ada lelaki yang nekat masuk.

Tampaknya, tak hanya makluk biologis yang berjenis kelamin. Ruang juga. Ruang yang sesungguhnya tak punya ‘ayah-ibu’ biologis, juga tak bereproduksi. Ah, apa benar begitu? Apa benar ruang tidak bereproduksi? Apa benar ruang tidak beranak pinak, tidak berketurunan? Jangan-jangan, ruang kereta perempuan itu juga punya saudara, punya sepupu, punya nenek. Dalam Islam, ketika pengajian, tempat duduk juga berjenis kelamin, yang sebelah khusus laki-laki, sebelahnya khusus perempuan. Musola juga. Ah, toilet umum juga.  Toilet umum dan ruang pengajian itu jangan-jangan bersaudara. Dua-duanya berjenis kelamin.

Saturday, May 12, 2012

Kulit Gelap Agnes, Spongebob Juga

Agnes Monica/detikcom
Seorang teman mendadak sulit mengatupkan mulutnya. Ia takjub. "Aku dulu nggak blas lho sama Agnes. Tapi sekarang, rasanya kok... hmmmhhh," katanya dengan ekspresi geregetan, dan, alhamdulillah, akhirnya ia bisa menutup mulutnya. Ekspresi geregetan membuatnya harus memeras dua bibir dan giginya, seolah menggigit sesuatu dengan emosi suka yang amat sangat. Hmmmmh....

Kenapa mendadak teman saya ini suka? Apa yang beda dengan Agnes? Agnes Monica, atau kadang disebut dengan Agmon, memang berpenampilan lain belakangan. Terutama... kulitnya. Setiap kali muncul di ajang Indonesian Idol sebagai juri, Agnes tampil dengan kulit lebih gelap, plus rambut ikal-cenderung-kriwil diurai.

Wednesday, December 15, 2010

Palu Godam 'Sesat'

Untuk kesekian kalinya, saya merasa risau oleh berita soal Majelis Ulama Indonesia (MUI). Di Kupang, Nusa Tenggara Timur, MUI setempat menyatakan menolak keberadaan Jamaah Ahmadiyah di sana. Alasannya apalagi kalau bukan karena, sesat! Simak beritanya hari ini di sini.

Okay, baiklah, aksi tolak-menolak di negeri demokrasi itu biasa. Siapa saja bisa melancarkan aksi penolakan terhadap individu atau insitusi apapun, bahkan terhadap presiden sekalipun. Boleh-boleh saja. Alasannya juga bisa macam-macam. Tolak perusahaan tambang karena merusak lingkungan. Tolak kehadiran Presiden SBY karena gagal menyelesaikan kasus Lapindo. Tolak Aburizal Bakrie sebab PT Lapindo Brantas miliknya telah menenggelamkan tanah dan rumah puluhan ribu warga. Tolak. Tolak. Tolak.

Saturday, December 11, 2010

Merawat Khalayak dan Ruang Khalayak

Oleh Marco Kusumawijaya dan Mujtaba Hamdi

Hingga hari ini, kita masih terus melihat bagaimana kebebasan berekspresi di masyarakat kita belum mencapai gambaran yang kita cita-citakan. Individu maupun kelompok yang bermaksud mengungkapkan jatidiri mereka, keyakinan maupun daya kesenian mereka, ke ruang-ruang yang melibatkan khalayak, ke ruang khalayak, masih terus berbenturan dengan aktor-aktor negara maupun nonnegara. Ruang khalayak yang seharusnya menjadi "hak guna bersama" diklaim menjadi seolah "hak milik" kelompok atau institusi tertentu.

Di luar itu, kebebasan berekspresi menghadapi tantangan lain yang tak kalah menggelisahkan. Terutama dalam ranah seni, kebebasan berekspresi kerap hanya berhenti pada ruang-ruang privat. Seorang seniman mengguratkan karya dalam ranah yang mungkin memang sangat personal. Namun, ia nyaris selalu memaksudkan karya-karyanya untuk dinikmati khalayak, dengan satu atau lain cara. Semua seniman, dengan kata lain, sesungguhnya rindu kepada khalayak. Masalahnya hari ini adalah karya-karya seni semakin tersudut pada ruang-ruang privat para kolektor, dan sebaliknya ruang-ruang khalayak, sebutlah dalam hal ini museum, semakin tertutup terhadap karya-karya seni.

Sunday, November 07, 2010

NU Condong versus Condong NU

-Ocehan Pinggir Tanggul Lumpur Lapindo

Di daratan Porong, sama sekali tak terasa sengatan hawa panas Muktamar NU ke-32 di Makassar, pada sepertiga terakhir Maret 2010 itu. Bukan soal jarak spasial, tapi ada yang lebih menyengat. Meski tak sepermiliar pun asap neraka, didih luapan lumpur Lapindo tetap lebih memanaskan cuaca, juga hati. Tentu saja cuaca dan hati lingkungan dan warga Porong dan sekitarnya, bukan cuaca dan hati Keluarga Bakrie, pemilik perusahaan yang paling bertanggung jawab terhadap pemicu semburan. Juga bukan cuaca dan hati para calon penguasa NU di Makassar sana, yang sedang lalu lalang menegosiasikan kursi yang konon paling bermartabat. Orang-orang di sekitaran tanggul lumpur Lapindo tak terlalu risau dengan ajang perebutan singgasana NU itu. Dan, ya, diakui atau tidak, yang sedang mondar-mandir di Makassar sana pun tak hirau dengan panasnya neraka Porong, meski tak sedikit dari mereka yang kampung halamannya juga tak jauh-jauh dari pusat asap jahanam ini.