Saturday, August 09, 2003

Rezeki

Majalah Syir'ah, Tahannus, Agustus 2003
Oleh Mujtaba Hamdi

Kata rezeki sangatlah akrab di kehidupan kita. Ia seolah sudah merasuk ke alam bawah sadar kita yang paling kerak. Ia selalu “ikut serta” dalam percakapan sehari-hari. Ia juga digunakan untuk nama apa saja, dari nama orang, nama wartel, toko, rumah makan, usaha kecil, bahkan nama truk jasa angkutan.

Dalam doa sehabis salat, kata rezeki nyaris tak pernah absen. Allâhumma ‘rzuqnâ rizqan wâsi’a, ‘ya Allah berilah kami rezeki yang lapang’, begitu doa yang sering kita mohonkan. Dalam doa itu, kita menyapa Allah pun dengan panggilan al-Razzâq, Sang Pemberi Rezeki (Tentulah masih ingat, Allah memiliki 99 nama yang dikenal dengan al-asmâ’ al-husnâ). Bisa puluhan kali, bahkan ratusan kali, kata al-razzâq ini kita wiridkan.

Kata rezeki juga banyak disebut dalam al-Quran. Dalam al-Quran, kata-kata yang bermula dari akar ra-za-qa bisa seratus kali lebih kita jumpai. Bandingkan dengan ja-ha-da (akar kata jihad) yang hanya empat puluhan kali.

Di surau, masjid, atau majelis pengajian, kita sering mendengar para ustad mengutip ayat-ayat mengenai rezeki itu. Salah satu yang paling terkenal: man yattaqi ‘llâha yaj’al lahû mahkrajan wa yarzuqhu min haitsu lâ yahtasib, ‘barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan membuatkan jalan keluar dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka’. Mengutip surah al-Thalâq (65): 2-3 ini, biasanya sang ustad kemudian menyertakan penjelasan: rezeki itu datangnya dari Allah, kita tidak bisa menduga kapan datangnya.

Begitulah, ketika kata rezeki dihadirkan, kita merasa ada harapan yang sedang dipancangkan. Saat kata rezeki disebut, kita merasa ada kekuatan Tuhan yang tak bisa dibantah tapi ia bakal hadir pada waktu yang tak terduga. Kekuatan Tuhan yang tanpa cela (kekuatan ini, untuk konteks rezeki, kadang kita sebut anugerah atau berkah). Kekuatan Tuhan yang hanya diperuntukkan bagi hamba-Nya yang Dia cintai. Tidak bagi hamba yang durhaka.

Tapi, tak selamanya kata rezeki bebarengan dengan rasa lega maupun harapan baru kita. Pada situasi tertentu, kata rezeki seakan justru mengunci-mati pikiran dan tindakan kita.

Itu bisa dirasakan dalam pengalaman. Mungkin kita pernah melihat seorang ulama yang mendadak kekayaannya melimpah. Ia mendadak punya mobil baru, satu bahkan lebih, seharga ratusan juta. Padahal yang ia punya sebelumnya, dan yang mengantarnya ke mana-mana, hanya sebuah mobil butut. Tiba-tiba ia juga bikin rumah baru semegah istana. Kita, dalam hati, sebenarnya hendak bertanya: dari mana si ulama mendapatkan kemewahan itu. Padahal setahu kita, si ulama tidak menjalankan bisnis yang beromset besar. Bisnis kecil-kecilan juga tak kita lihat, kecuali koperasi pesantren yang tentu bukan punya si ulama. Bahkan boleh dikata, ia tak menjalankan aktivitas bisnis apapun. Aktivitasnya ceramah, khotbah, atau kadang-kadang juga seminar ke sana-kemari.

Tapi, belum juga sempat kita bertanya, si ulama dalam beberapa kali kesempatan sudah mengatakan, “Begitulah rezeki dari Allah. Kepada hamba-Nya yang bertakwa, Allah niscaya memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Semua sudah ditentukan oleh-Nya.” Si ulama pun mengutip ayat ini, ayat itu, hadis ini, hadis itu, yang intinya meyakinkan jamaah, bahwa apa yang ia dapatkan merupakan rezeki, rezeki dari Allah.

Pikiran kita pun mandeg. Kejanggalan yang mau kita klarifikasikan, yang mau kita tanyakan, ternyata patah duluan. Pikiran dan tindakan kita telah dibombardir habis oleh ayat-ayat dan hadis-hadis yang memang sulit dibantah. Ya, ayat dan hadis bahwa rezeki sudah ditentukan, telah digariskan, dan datang tidak disangka-sangka. Kita terkunci, meski dalam hati berteriak: inikah rezeki itu? Inikah anugerah, inikah berkah?

Mau sebenarnya kita membantah ayat-ayat dan hadis-hadis yang disodorkan si ulama. Tapi, rasanya sulit, sebab dalil-dalil itu memang kuat dan meyakinkan. Kita hanya menyimpan rasa heran. Heran bahwa si ulama ternyata tidak cuma menyampaikan teks-teks agama. Tapi, seakan-akan ada pola-pola tertentu yang digunakan si ulama saat menyampaikan ayat dan hadis itu.

Tampak bahwa sejumlah dalil tertentu ditonjolkan dan diberi penekanan. Disebutlah dalil-dalil yang menguatkan keyakinan bahwa soal rezeki itu urusan Allah. Manusia tidak bisa campur tangan. Allâhu yabsuthu ‘l-rizqa li man yasyâ’ wa yaqdir, ‘Allah melapangkan rezeki kepada siapa saja sekehendak-Nya dan sewenang-Nya’. Dan diulang-ulanglah dalil-dalil lain yang menurut dia semakna dengan surah al-Ra’d (13): 26 itu.

Begitu pula dengan hadis tentang telah ditetapkannya rezeki sejak lahir. Sesungguhnya Allah, demikian hadis riwayat Al-Bukhari itu, telah mengutus seorang malaikat ke rahim manusia, dan ketika Allah berkehendak memberi takdir pada ciptaan-Nya, laki-laki atau perempuan, sengsara atau bahagia, juga rezeki dan ajalnya, malaikat ini pun mencatat semuanya pada janin itu. Rezeki sudah digariskan semenjak di kandungan, begitu tampaknya inti yang ingin disampaikan si ulama. Ini kemudian ditekankan lagi dengan mengungkap hadis-hadis lain yang senada.

Seolah-olah dengan dalil-dalil itu, kita tak usah bertanya—atau jangan bertanya—dari mana datangnya rezeki si ulama. Itu urusan Allah.

Sedangkan dalil-dalil yang menyatakan bahwa rezeki selalu melibatkan unsur manusiawiah tidaklah begitu disorot. Kalaupun disebut, ya, tidak begitu ditonjolkan. Tapi, dinomordua atau dinomorakhirkan, alias menjadi subordinat dari dalil-dalil yang disebut di atas. Ayat ini misalnya, yâ ayyuha ‘lladzîna âmanû lâ ta’kulû amwâlakum baynakum bi ‘lbâthili illa an takûna tijâratan ‘an tarâdlin minkum, ‘hai orang-orang beriman, janganlah kalian memakan harta-benda satu sama lain secara batil, kecuali melalui cara transaksi suka sama suka’.

Ayat ke-29 surah al-Nisâ’ (4) ini menerangkan bahwa memperoleh harta-benda haruslah melalui transaksi suka sama suka. Kalau tidak, ya, batil namanya. Setiap sirkulasi harta-benda selalu ada proses yang rasional. Ada unsur manusiawiah. Proses semacam inilah yang oleh Qatâdah—dikenal sebagai ahli tafsir dari kalangan Sahabat—disebut rizqun min rizqillah, ‘rezeki Allah’. Sebagaimana tercatat dalam Tafsîr al-Thabarî.

Tapi, ayat ini ternyata tidak menjadi landasan utama si ulama tadi. Malah, cenderung dilupakan sama sekali, atau disebut tapi tanpa penjelasan yang memadai. Padahal, kalau ayat ini dilontarkan dengan penjelasan seluas-luasnya, kita punya peluang untuk bertanya soal proses rasional si ulama memperoleh rezeki, tanpa takut mengingkari firman-firman Allah.

Dan, tidak hanya terhadap seorang ulama. Kita pun jadi punya peluang untuk mempertanyakan “rezeki” yang diperoleh lembaga-lembaga ulama dan lembaga-lembaga keagamaan kita, yang kian lama kian membuat kita geleng-geleng kepala. *