Saturday, June 07, 2003

Tauhid

Majalah Syir'ah, Tahannus, Juni 2003
Oleh Mujtaba Hamdi

Bolehlah berbeda paham pada soal lain, tapi tidak pada soal tauhid. Tak usah tabu mendebatkan ayat dibolehkan-tidaknya presiden wanita, tapi jangan main-main pada wilayah tauhid. Silakan mengubah klausul-klausul lain dalam undang-undang itu, tapi jangan hapus kalimat ‘bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa’. Merelakan klausul ‘Tuhan Yang Mahaesa’ dihilangkan sama artinya mengabsahkan atau setidaknya memberi peluang masuknya asas syirik. Pertahankan dengan segala daya upaya, meski nyawa taruhannya.

“Ini persoalan tauhid, Bung. Jangan diutak-atik,” begitu ucapan yang kerap kita dengar. Beberapa tarikan nafas kemudian, kita segera mendengar gaung kalimat agung: “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar.” Ya, allâhu akbar ‘Allah Mahabesar’, bukan allâhu ahad ‘Allah Mahaesa’ yang kendatipun lebih dekat dengan makna tauhid. Entahlah.

Tapi yang jelas, saat meneriakkan ‘persoalan tauhid’, persoalan-persoalan krusial lain seolah-olah tidak mendapat tempat, tidak bisa masuk dalam keranjang ‘persoalan tauhid’ itu. Kita lupa bahwa ribuan anak di bawah usia harus mengamen di jalanan kala teman-teman sebayanya duduk di bangku sekolah. Di sudut lain, kaum petani meringkuk lemas sebab harga gabah hasil panenannya sama sekali tak sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. Di sudut lain lagi, pejabat-pejabat kita sedang asyik menghambur-hamburkan uang, demi mempersiapkan pemilu.

Kita pun rasanya tak ingat lagi bahwa puluhan korban perkosaan lima tahun lalu tak juga mendapatkan keadilan. Sementara di sana, yang sudah tervonis masih ongkang-ongkang kaki. Persoalan-persoalan ini seakan lenyap dari memori kita. Mungkin, secara tidak sadar, kita sudah berpikir, “Itu bukan persoalan tauhid, Bung.”

Toh, kita tak perlu heran jika kesadaran kita tersusun seperti itu. Pemahaman tauhid semacam itulah yang lebih sering dikemukakan ahli-ahli agama kita. Kita lalu menyerapnya, menanamkan dalam memori. Pengertian tauhid yang kita terima agaknya senantiasa berkutat pada soal ancaman di neraka dan pahala di surga.

Kita lebih sering mendengar hadis-hadis semacam ini. “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, niscaya Allah mengharamkan neraka baginya.” (HR Muslim) Begitulah hadis yang acap kita terima. Hadis yang menggambarkan betapa nikmatnya menjadi seorang muwahhid. Dus, jadilah segala persoalan dialirkan dalam satu muara: bersyahadatlah, kau akan temukan kebahagiaan abadi. Sangatlah jarang kita mendengar penjelasan yang lebih dari itu.

Bahkan, kita mungkin akan kelelahan mendapatkan isi ceramah yang menjelaskan, misalnya, bagaimana makna tauhid dalam kehidupan orang-orang lemah dan orang-orang yang tidak diuntungkan keadaan, lalu apa artinya tauhid bagi kehidupan mereka.

Alih-alih, kita pun akan segera mendapatkan ceramah yang membuat bulu kuduk merinding. Bukan janji kebahagiaan, tapi ancaman kesengsaraan. Kesengsaraan abadi. “Barangsiapa mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain Allah, maka ia masuk ke dalam neraka.” (HR al-Bukhari)

Atau ayat-ayat ini:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) syirik dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapapun yang Dia kehendaki.” (QS. al-Nisa [4]: 48)

“Dan seandainya mereka berbuat syirik, pastilah gugur amal perbuatan yang mereka kerjakan.” (QS. al-An’am [6]: 88)

Begitulah nasib orang yang menyelewengkan tauhid: sengsara dan sia-sia. Pemahaman semacam ini terus-menerus tertanam dalam kesadaran kita. Dan inilah kemudian yang mewarnai budaya kita, cara-cara kita, melihat dan memperlakukan berbagai persoalan kehidupan.

Memang, barangkali sudah semestinya kita memahami tauhid sebagai rumusan dari kalimat lâ ilâha illallâh. Lâ ilâha illallah, tidak hanya mengucapkan bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Lebih dari itu membenarkan, mengakui, dan meyakini sepenuhnya bahwa segala kekuatan yang ada di dunia ini hanya memiliki satu asal-muasal belaka: Allah.

Kekuatan-kekuatan lain hanya mungkin ada jika Ia menghendakinya ada. Ialah Sang Sumber. Ialah Sang Kekuatan Tertinggi yang tak bisa didua-duakan lagi. Huwa al-awwalu wa al-âkhir, wa al-zhâhiru wa al-bâthin, Dia-lah Sang Awal sekaligus Sang Akhir, Sang Lahir sekaligus Sang Batin.

Kita, selanjutnya, untuk memberi bentuk pada keyakinan ini, diharuskan mengisi hidup dengan menyembah-Nya. Wa mâ khalaqtu al-jinna wa al-insa illa liya’budûn, ‘dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku’ (QS. al-Dzâriyât [51]: 56). Konsekuensi kita bertauhid ditagih: sepanjang hidup menyembah Dia satu-satunya. Kita dituntut untuk tidak menodai keesaan-Nya, untuk tidak menyekutukan-Nya (syirik).

Pemahaman ini mungkin memang sudah seharusnya demikian. Tapi, dalam pada itu, apakah kita juga ingat bahwa sebagai Yang Tunggal, Allah tidak membutuhkan kita, bahwa Allah, sebagaimana dikatakan al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, memiliki sifat al-qiyâm bi nafsih ‘berdiri sendiri’? Pernahkah pula kita berpikir, apa yang menjadi hakikat tauhid: ‘kebahagiaan’ Allah ataukah kebahagiaan manusia?

Pernahkah pula kita bertanya kepada diri kita sendiri: apakah ketika kita mendefinisikan sebuah persoalan tertentu sebagai ‘persoalan tauhid’ dan persoalan lain bukan, kita merasa sedang mempraktikkan tauhid karena ‘membersihkan’ Tuhan dari sebuah noda?

Pernahkah kita berpikir, jangan-jangan hal itu merupakan pengingkaran terhadap tauhid itu sendiri karena kita menganggap Tuhan ‘perlu dibersihkan’ dari noda?

Okelah. Itu menjadi renungan kita. Sekarang, ada baiknya kita menyimak kembali Surah Quraisy (106): 3-4. Sebagaiama sering kita baca dan dengar, bunyi ayatnya begini: fal-ya’budû rabba hâdzidi al-bayti al-ladzî ath’amahum min jû’in wa âmanahum min khawf.

Secara sederhana, ayat ini bisa diartikan demikian: ‘maka hendaklah (orang-orang Quraisy) menyembah Tuhan pemilik Ka’bah ini yang telah memberi mereka makan setelah sebelumnya kelaparan, dan yang telah memberi mereka ketenteraman setelah sebelumnya ada dalam ketakutan’.

Dalam ayat tersebut tampak, aktifitas ‘menyembah’ tidak hadir dengan iring-iringan ‘surga’ atau ‘neraka’ yang sangat abstrak. Tapi, ia hadir setelah terciptanya sebuah kondisi konkret: ‘dari kelaparan ke kesejahteraan, dan dari ketakutan ke ketenteraman’. Pantaskah ini kita lupakan? *

More...