Wednesday, October 06, 2004

Akhlak

Majalah Syir'ah, Tahannus, Oktober 2004
OlehMujtaba Hamdi

Suatu yang seragam, jika lahir dari komando, tentu bukan hal aneh. Dua dekade lalu, setiap partai politik diharuskan menganut satu asas saja. Sebuah komando menghendaki gerakan seragam, langkah tunggal: Pancasila. Tak boleh ada asas Islam, Marxisme, Marhaenisme, bahkan Jenggotisme atau Gundulisme sekalipun. Maka, semua organisasi pun tunduk mencantumkan Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi. Setiap organisasi sosial politik, jika tak mematuhi instruksi ini, akan segera mendapat gelar baru: organisasi tanpa bentuk. Dan, nasibnya bisa segera ditebak, digerus tanpa sisa.

Namun, yang seragam tak selalu hadir dari godam sebuah komando. Anda mungkin pernah, atau sering, mendengar kalimat yang tertata rapi berikut: “membangun generasi yang berakhlakul karimah”. Tak ada komando yang menggariskan bahwa setiap lembaga sosial, khususnya yang beridentitas Islam, meletakkan kalimat ini dalam visi dan misi kelembagaannya. Nyatanya, hampir semua yayasan atau lembaga yang membawa Islam—entah sekadar atau lebih dari sekadar nama—mencantumkan kalimat tersebut pada profil lembaganya, dengan tata kalimat yang nyaris seragam pula. Ini termasuk yayasan-yayasan tiban, yang muncul tiba-tiba saat menjelang pemilu.

“Akhlakul karimah”, kadang “akhlak” saja, juga secara serempak dilontarkan oleh para pengajar agama kita, lebih-lebih ketika bicara soal kondisi negeri ini. Kenapa negeri ini terpuruk? “Akhlak para pemimpin sudah rusak,” jawab pengajar agama kita. Kenapa si Anu tak boleh mengajar di kampus X? “Karena ajarannya akan mencemari akhlak generasi bangsa.” Kenapa film berjudul Anu juga tak boleh beredar? “Karena film itu bakal merusak akhlak kaum remaja.”

Jawaban “akhlak” secara seragam dikemukakan para pengajar agama kita, tanpa komando, tanpa SK siapapun. Ah, tapi bukankah SK-nya dari Allah? Mungkin iya, tapi sulit dipastikan. Di al-Quran, yang terdiri dari beribu-ribu ayat, firman Allah hanya menyebut kata khuluq—bentuk tunggal dari kata akhlâq—sebanyak 2 kali. Pertama, pada surat al-Syu’ara (26): 137. Ayat ini merupakan bagian dari dialog yang terjadi antara Nabi Hud dan kaumnya, Kaum ‘Ad.

Sebagaimana uraian Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya, Tafsir al-Thabari, Hud mengabarkan kepada Kaum ‘Ad, bahwa dia adalah utusan Allah, membawa risalah-risalah dari-Nya. Hud menilai, apa yang dilakukan Kaum ‘Ad, dengan mendirikan bangunan-bangunan megah, merupakan tindakan keliru. Karena itu, Hud mengajak Kaum ‘Ad agar takut kepada Allah, dan menaati nasihat-nasihat Hud. Hud menguatirkan, kalau tidak taat, mereka bakal kena azab Allah.

Namun, Kaum ‘Ad menolak. Mereka mengatakan, hai Hud, sama sajalah apakah engkau memberi nasihat kepada kami, atau tidak. Tak ada bedanya. Mereka pun mengatakan, seperti pada al-Syu’ara ayat 137 itu, in hâdza illa khuluqul awwalin, apa yang kami lakukan ini, hai Hud, tak lain adalah akhlak dan adat kaum-kaum pendahulu. Sehingga, lanjut Kaum ‘Ad, wa mâ nahnu bi’mu’adzdzabin, kita tak bakal kena azab seperti yang kau katakan.

Ini ayat pertama yang menyebut kata khuluq. Sebagaima telah jelas, kata khuluq tidak keluar dari mulut Hud, sang Nabi, tapi justru muncul dari pernyataan Kaum’Ad, sang pembangkang. Mungkin saja, kalau waktu itu dikatakan “merusak akhlak”, positiflah maknanya. Sebab, misi Hud memang “merusak akhlak” yang dipegangi Kaum ‘Ad, dan kemudian memberi pencerahan dengan ajaran baru.

Beda lagi dengan kata khuluq pada surat al-Qalam (68): 4. Ayat ini menunjukkan dengan gamblang pujian Allah untuk Nabi: wa innaka la‘alâ khuluqin azhîm, sungguh engkau, hai Muhammad, memiliki akhlak yang agung. Kata khuluq tak lagi bergandengan dengan Kaum ‘Ad yang pembangkang, tapi beriringan dengan Muhammad, sang Nabi Agung.

Di teks-teks hadis, kata khuluq atau bentuk pluralnya, akhlâq, nyaris selalu hadir secara bersamaan dengan subjek Nabi Muhammad, atau dengan kata-kata khayr, hasan-ahsan-mahâsin, makârim, yang menyimpan arti ‘baik’, ‘terpuji’, ‘luhur’, ‘agung’. Contohnya, hadis riwayat al-Bukhari, bahwa Aisyah mengatakan, fa inna khuluqan nabi kâna al-Quran, sesungguhnya akhlak Nabi itu al-Quran. Atau, inna min khiyarikum ahsanakum akhlâqan, sesungguhnya orang-orang pilihan di antara kalian adalah orang-orang yang berakhlak terpuji.

Contoh lain, inna man ahabbukum ilayya ahsanakum akhlâqan, yang paling aku cintai di antara kalian adalah yang terpuji akhlaknya... termasuk hadis yang cukup kita kenal: innamâ buitstu li-utammima makârim al-akhlâq, sesungguhnya aku (Nabi) diutus untuk menyempurnakan keluhuran-keluhuran akhlak. Dan jika kita telusuri, hampir pasti tak ditemukan teks-teks hadis yang memuat kata khuluq atau akhlâq dalam rangkaian kisah tentang pembangkangan, pembelotan, pemberontakan.

Di abad-abad berikutnya, ulama-ulama meletakkan kata akhlâq semakin terarah dan sistematis. Cobalah tengok, di zaman-zaman tersebut bermunculan karya dengan judul-judul tahdzîb al-akhlâq, dan terma-terma al-akhlâq al-hasanah (akhlak terpuji) dan al-akhlâq al-sayyi’ah (akhlak tercela). Bahkan, tak sedikit ulama yang mencatat secara rinci apa saja yang masuk kategori al-akhlâq al-hasanah dan al-akhlâq al-sayyi’ah. Daftar kategori itu pun menjadi acuan umat hingga abad kita ini.

Di era-era belakangan, akhlâq tak hanya sekadar terma, tapi sudah berkembang menjadi alat ukur, bahkan cara mengukurnya bisa sangat kuantitatif, dengan skala atau angka. Dan di negeri ini, kita bisa saksikan itu. Pada rapot anak-anak sekolah Islam (juga pesantren dan madrasah), akhlak menjadi kategori penilaian prestasi belajar, yang berada di urutan-urutan atas. Anak yang mendapat nilai 9, misalnya, diasumsikan sebagai “generasi teladan masa depan”, sementara yang mendapat nilai 6 ke bawah dianggap “generasi rusak”, dan seterusnya.

Entah bagaimana cara nilai-nilai itu ditetapkan. Tapi, kita tahu, anak-anak didik tingkat awal cenderung mendapat nilai ‘akhlak’ tinggi jika mengikuti anjuran pengajarnya, semisal mengucap ‘assalamu’alaikum’ ketika bertemu dan berpisah dengan guru, baca basmalah ketika memulai menulis, memakai tangan kanan jika menerima atau memberikan sesuatu, tidak menggunakan kata-kata kasar saat berbicara, dan seterusnya.

Dan, marilah kita lihat tempat lain. Di perempatan-perempatan jalan, di sudut-sudut terminal, setelah lelah ber-kecrak-kecrek sana-sini, anak-anak jalan itu berbagi makanan dengan kawan-kawannya. Mereka tak peduli memakai tangan kanan atau kiri. Mereka tak peduli sudah mengucap basmalah atau belum. Malah, sesekali terdengar kata-kata “anjing lu” di tengah deraian tawa mereka. Sebentar kemudian, mereka kembali beraksi di bis-bis kota, berebutan dengan para pembawa kotak amal yang fasih mengutip ayat-ayat al-Quran, juga hadis-hadis tentang akhlak luhur. Segera, selepas pembawa kotak amal itu turun, anak-anak itu mulai memainkan kecrek­-nya, mengeluarkan suara keras-keras, urus saja moralmu... urus saja akhlakmu....*