Majalah Syir'ah, Tahannus, Maret 2004
Oleh Mujtaba hamdi
Kita rupanya sudah harus mempercayai kenyataan. Seorang tokoh publik, yang telah terbukti melakukan tindak pidana korupsi dan divonis tiga tahun kurungan, ternyata adalah seorang pendoa yang khusyu. “Saya berdoa semoga kasasi saya dikabulkan,” katanya kepada juru warta, sembari mengusap wajahnya yang mendadak tampak sayu. Dan ajaib, doanya didengar Allah. Para pengadil benar-benar memutuskan bahwa si tokoh tidak bersalah alias bebas.
Tapi, sebagian umat Islam masih belum mau percaya. Mereka akhirnya harus berteriak bahwa si tokoh telah menyeret-nyeret Islam untuk kepentingan politik pribadi. Ia memanipulasi agama untuk menciptakan kesan bahwa ia orang saleh—yang tak mungkin melakukan kejahatan besar semacam korupsi. “Jangan bawa-bawa agama untuk menutup-nutupi perilaku maling,” teriak mereka. Akan tetapi, si tokoh bergeming, ia tak berhenti meratapkan doa kepada Sang Mujîbu-d-Da’awât (Sang Pengabul Doa—Allah).
Si tokoh agaknya tahu betul, Allah tak pernah menyia-nyiakan doa hamba-Nya. Allah, dalam al-Mukmin (40): 60, dengan tegas mengatakan, “Ud’ûnî astajib lakum. Berdoalah, Aku pasti akan mengabulkan.” Allah, seperti dikisahkan dalam hadis, juga akan malu jika tak mengabulkan permohonan hamba-Nya. “Sesungguhnya Allah itu pemalu dan pemurah, hayyiyun karîmun,” demikian hadis riwayat Abu Dawud, Ibnu Mâjah, dan al-Baihaqi, yang dinyatakan sahih oleh al-Hâkim itu, “Dia malu jika ada seseorang yang menengadahkan tangan kepada-Nya dan kemudian orang tersebut kembali dengan tangan kosong, shifran khâ’ibatain.”
Begitulah sebuah hadis sampai menggunakan kata “malu” untuk menggambarkan betapa Allah tak mungkin menolak permintaan hamba yang berdoa. Dan tentu, sebagai muslim yang seratus persen berpedoman pada al-Quran dan hadis, mempercayai kemujaraban doa adalah mutlak—keyakinan yang tak dapat ditawar-tawar. Tak ada kata ragu terhadap sebuah doa. Bukankah kita juga pernah mendengar nasehat, berdoa itu harus mantap, meminta itu harus yakin?
Benar, itu bukan wejangan biasa, melainkan sabda Rasul, hadis sahih riwayat al-Bukhari. “Jika kalian berdoa,” kata Rasul, “yakinlah terhadap permintaan kalian. Jangan pernah mengatakan ‘ya Allah, berikanlah kepadaku jika Engkau mau’.” Jangan pernah kasih embel-embel in syi’ta, jika Engkau mau. Sebab masyî’atullah ‘kehendak Allah’, kata Ibnu Hajar dalam Fath al-Bâri, tidak tergantung pada emosi, rasa suka atau benci, lâ mustakrih lah dalam bahasa hadisnya. Jadi, Allah kalau mengabulkan, ya, mengabulkan, begitu saja.
Begitu pemurahnya, sehingga Allah justru tak menyukai hamba yang enggan berdoa. Dengarlah, Rasulullah pernah mengatakan kepada para Sahabat, “Siapa yang tidak mau berdoa, Allah SWT bakal murka kepadanya.” Bisa dimaklumi, sebab kita pun tahu, doa adalah inti ibadah. Ustad-ustad kita sedari awal selalu mengingatkan, “al-du’â mukhkhu al-‘ibâdah, doa itu otaknya ibadah”. Tak heran pula kalau Allah mengancam orang yang enggan berdoa dengan ancaman neraka. Allah akan menjebloskan mereka ke Jahannam dalam keadaan mengenaskan. Sayadkhulûna jahannama dâkhirîn, mereka bakal masuk Jahannam dalam keadaan hina-dina, demikian tercatat dalam al-Mukmin (40): 60.
Karena itu, si tokoh publik tadi tak mau nasibnya bakal berakhir di Jahannam, hanya gara-gara enggan berdoa. Akhirnya dia pun rajin berdoa. Kian disorot kamera teve, kian rajin ia berdoa, bersujud, dan terus memutar tasbih. Dia agaknya juga tak mau ragu kalau-kalau doanya bakal ditolak Allah. Ragu adalah dosa, sedangkan yakin adalah iman.
Sementara itu, sebagian umat Islam masih belum mau percaya. Tapi apa boleh dikata, al-Quran dan hadis memang sangat menganjurkan doa. Lantas, si tokoh sendiri juga bermaksud melaksanakan anjuran ini, berdoa agar tuduhan yang diarahkan kepadanya tak terbukti.
Rasa tak percaya semakin menjadi-jadi ketika doa si tokoh ternyata mustajâb, terkabul. Padahal, seperti sabda Rasulullah yang pernah kita dengar, tak mungkin doa seorang pemakan harta haram itu dikabulkan. “Allah itu Mahasuci, dan hanya menerima yang suci,” kata Rasul. Artinya, Allah hanya menerima yang halal dan baik, halalan thayyiba. Rasulullah kemudian bercerita tentang seorang musafir. Musafir ini rambutnya kumal, berdebu akibat perjalanan yang berat. Ia lalu mengangkat tangan, berdoa, “Ya Rabb… Ya Rabb….” Tapi, kata Rasul, doa si musafir ini tak terkabul, dan tak bakal terkabul. Sebab, bagaimana bisa terkabul jika makanan, minuman, pakaiannya saja haram?
Itu doa seorang musafir yang tergolong tsalâtsu da’awât mustajâbât la syakka fihinn, tiga macam doa yang tak diragukan kemustajabannya. Kemustajaban doa musafir sempat diibaratkan “bertulah”. Ketika, misalnya, ada orang berbaik hati kepadanya, lalu si musafir berdoa agar orang tersebut mendapat balasan tertentu, maka Allah segera mewujudkan ucapan si musafir. Sebaliknya, jika ada orang mencelakai, lalu si musafir berdoa agar orang tersebut celaka, Allah pun segera mengabulkan. Toh, keistimewaan ini sontak luntur ketika berbenturan dengan makanan haram.
Maka itu, rasa tak percaya kian meninggi. Doa si tokoh, yang terbukti memakan harta haram, toh dikabulkan. Sementara doa mereka yang tergusur, yang hak-haknya dikangkangi, yang rasa keadilannya diinjak-injak, tak kunjung dijawab Tuhan. Bahkan mereka semakin tersisih dan tergilas. Padahal, meraka adalah kaum mazhlûmîn, orang yang dizalimi dan ditindas, yang—sebagaimana sabda Rasulullah yang kita kenal—doanya paling mujarab. Ittaqi da’wata-l-mazhlûm, kata Rasul, takut-takutlah pada doa orang yang dizalimi, sebab laysa baynahâ wa baynallâhi hijab, antara doa tersebut dan Allah tak ada jarak-penghalang. Artinya, ketika seorang mazhlûm meminta sesuatu dengan doa, Allah bakal mewujudkannya segera. Tak ada tabir apapun yang menjadi penghambat.
Kenyataannya, ratapan doa si mazhlûm seakan sama sekali tak bertaji. Si mazhlûm berdoa agar koruptor mendapat hukuman berat, eh, yang terjadi justru sebaliknya: bebas. Si mazhlûm berdoa agar dia dan kaumnya bebas dari gilasan kaki kekuasaan, eh, gilasan itu malah menjadi-jadi.
Sebaliknya, si tokoh publik telah mendapat bukti, doanyalah yang terkabul. Dia akhirnya bisa membusungkan dada bahwa dialah si mazhlûm yang sah—yang dimaksudkan hadis. “Saya sedang mendapat cobaan dari Allah,” begitu kata-kata yang sering ia lontarkan, sembari memasang wajah pasrah. Adapun mereka yang mengaku rasa keadilannya diinjak-injak, berteriak-teriak menuntut dia dihukum berat, akhirnya disebut saja perusuh atau ekstremis-kiri. Pantas saja, doa mereka tak kunjung terkabulkan. Dan si tokoh dengan percaya diri barangkali akan mengatakan: karena bukan pendoa yang baik, mereka harus menerima nasib dikebiri hak-haknya. *
Friday, March 05, 2004
Doa
Posted by Mujtaba Hamdi at 5:13 PM 0 comments
Subscribe to:
Posts (Atom)