Majalah Syir'ah, Tahannus, April 2004
Oleh Mujtaba Hamdi
Syahdan, di sebuah waktu, Musa bertemu Adam. Musa, yang secara historis mustahil bertatap muka langsung dengan Adam, tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera melontarkan tanya. “Engkaukah Bapak kami, Adam?”
“Betul,” jawab Adam.
“Engkaukah Adam: Allah meniupkan ruh-Nya kepadamu, mengajarkan nama-nama kepadamu, dan memerintahkan para malaikat sujud kepadamu?”
“Iya, benar.”
“Lantas, apa yang mendorongmu sehingga kami, dan engkau sendiri, keluar dari surga?”
“Siapa engkau?” Adam balik bertanya.
“Aku Musa.”
“Engkaukah Musa, nabi Bani Israil: Allah berkalam kepadamu dari balik hijab, dan saat itu antara engkau dan Dia tak ada perantara makhluk apapun?”
“Iya, benar.”
“Bukankah engkau telah tahu, semua peristiwa tadi ada pada Kitab Allah, sebelum aku diciptakan?”
“Iya, benar.” Musa seperti tak bisa berkata lain.
“Lalu, kenapa engkau memrotesku? Kenapa engkau memrotes sesuatu yang, sebelum aku diciptakan, sudah menjadi qadlâ'(ketetapan) Allah?”
Kisah terhenti sampai di sini. Tak banyak yang tahu, bagaimana kelanjutan kisah yang dituturkan Rasulullah kepada para Sahabat itu. Ibnu Hajar al-Asqalani, penulis Fath al-Bârî-sebuah kitab syarah hadis-hadis al-Bukhari, juga tak bercerita lebih jauh. Al-Asqalani hanya mengutip beberapa riwayat yang menceritakan bahwa perdebatan Musa dan Adam itu berlangsung hingga tiga kali.
Tapi kita tahu kemudian, apa yang diperdebatkan Musa dan Adam telah menjadi bahasa umum umat Islam: ketetapan Tuhan. Ya, ketetapan Tuhan. Orang akrab menyebutnya sebagai takdir. Orang juga biasa mengatakan, entah dengan sadar atau tidak, bahwa segala sesuatu yang bergerak di dunia ini sudah tercatat oleh takdir. “Sudah diatur dari sono-nya,” begitu ungkapan populernya.
Di majelis-majelis agama, juga kerap terdengar cerita-cerita para ustad tentang ini. Kata ustad, Allah sudah menetapkan garis hidup kita semenjak di rahim ibu. Di rahim ibu, konon, kita masih berupa nuthfah, benih. Empatpuluh hari kemudian menjadi 'alaqah, gumpalan daging yang belum berbentuk. Empatpuluh hari lagi baru berbentuk mudhghah, gumpalan daging yang sudah tampak bentuknya: tangan, kepala, kaki. Nah, di sinilah ruh ditiupkan dan takdir ditetapkan. Maka Allah memberi perintah kepada malaikat, “Catatlah rezeki, ajal, watak, nasibnya: bahagia di surga atau sengsara di neraka.” Malaikat pun mencatat garis hidup manusia-manusia pada sebuah Kitab yang entah dengan bahasa dan huruf apa.
Kisah-kisah ini terdengar tak hanya saat khotbah atau ceramah. Saat mengaji al-Quran, tampak deretan ayat-ayat membeberkan ihwal takdir yang ditetapkan sebelum kita lahir tersebut. “...min nuthfatin khalaqahu faqaddarah, dari nuthfah-lah Allah menciptakannya kemudian Allah menetapkan takdirnya.” Ini bunyi Surat ‘Abasa (80): 19 yang acap terdengar pada salat-salat Jumat dan salat-salat berjamaah lainnya.
Kata takdir sendiri sebenarnya hanya selintas-selintas saja tampil dalam al-Quran. Di sana, cuma 5 kali kata takdir disebut secara eksplisit. Pada al-An’âm (6): 96, al-Furqân (25): 2, Yâ sîn (36): 38, Fush-shilat (41): 12, dan terakhir al-Insân (76): 16. Taqdîr di situ juga memiliki makna yang sama dengan apa yang kita pahami, yakni ketetapan Allah. Cuma, bukan ketetapan garis hidup masing-masing kita. Tapi, yang dikisahkan adalah ketetapan hukum-hukum alam. Bahwa garis peredaran matahari dan bulan sudah ditetapkan, sehingga tak bakal bertabrakan. Bahwa bintang-bintang sudah ditetapkan untuk menghiasi birunya langit, menghiasi pada tiap lapisannya. Bahwa seluruh isi langit dan bumi sudah ditetapkan hukum-hukum dan aturannya.
Adapun takdir dalam arti garis nasib manusia lebih banyak terungkap di ayat-ayat lain. Di sana ada kata-kata qadhâ, kataba, qaddara (semua mengandung makna “menetapkan”) yang diiringi kisah hakikat penciptaan awal manusia dan kisah tentang nasib manusia. Ada puluhan ayat. Sebagian besar menceritakan bahwa setiap laku manusia sudah ditetapkan oleh Allah. Dari Khidhir yang membunuh anak tak berdosa (yang sempat dipertanyakan Musa) hingga istri Luth yang harus tertimpa hujan batu bersama orang-orang kafir. Dikisahkan bahwa semua sudah ditetapkan Allah, tak mungkin dapat dielakkan.
Sekarang, takdir yang berupa ketetapan hukum-hukum alam tak kita kenal lagi sebagai takdir, tapi sebagai bagian ilmu fisika, biologi, astronomi, dan ilmu-ilmu lain. Yang kita pahami sebagai takdir sekarang hanyalah yang berkaitan dengan laku hidup manusia.
Di abad pertama Hijriyah, Muawiyah bin Abu Sufyan, khalifah pertama Dinasti Umawi, sangat menyukai pemahaman dan keyakinan macam ini. Saat itu, umat Islam tengah bergejolak. Pergantian kekuasaan dari Ali bin Abu Thalib ke Muawiyah diwarnai kekacauan berdarah-darah. Ali terbunuh. Tahta terebut. Umat Islam terbelah. Sebagian tunduk pada kekhalifahan Muawiyah—sebab bagaimanapun ia adalah imam umat Islam. Tapi, sejumlah besar umat Islam mentah-mentah menolak baiat kepada Muawiyah—kekhalifahannya dinilai tidak sah.
Muawiyah tak tinggal diam. Ia perangi mereka yang menolak baiat. Ia kemudian memproklamasikan kepada khalayak bahwa kekuasaannya ini sudah dikehendaki Allah. Tak dapat diingkari. Bahwa ia menjadi khalifah umat Islam, itu adalah ketetapan, takdir Allah. Takdir Allah tak dapat ditolak.
Umat Islam yang menentang Muawiyah jadi tak berkutik di hadapan keyakinannya sendiri. Mau memberontak, tapi apa mau dikata jika sudah takdir Allah, tak bakal berubah. Muawiyah menyukai keyakinan ini, dan ia mendukung habis-habisan agar seluruh umat Islam memegang keyakinan ini sungguh-sungguh.
Di abad ini, sebuah pesantren di penghujung timur Pulau Jawa menyimpan cerita, seorang kiai memberi wejangan ihwal takdir kepada santri-santrinya. Si kiai menjelaskan, setiap manusia memiliki takaran dan jalur hidup masing-masing. Kaya-miskin, susah-mewah, hidup-mati... semua sudah ditetapkan Allah.
“Jadi kalau kemarin kiai berhaji yang keempat kalinya, itu takdir Allah?” tanya seorang santri.
“Takdir Allah,” jawab kiai, lembut. “Buktinya, meski hampir tak dapat jatah, akhirnya berangkat juga. Yang keempat kalinya.”
“Kalau istri kiai empat, itu takdir juga?” tanya yang lain.
“Takdir Allah. Buktinya, waktu yang keempat minta cerai, lalu jadi cerai, ia minta rujuk kembali. Itu sudah diatur Allah.”
“Kalau si Aziz tidak pernah bisa bangun subuh, kupingnya ditindik, lengannya ditato, suka bantah nasehat kiai, itu takdir juga?”
Si kiai sejenak terkesiap. “Itu takdir Allah. Tapi bahwa ia harus keluar dari pesantren ini, itu juga takdir Allah,” jawab si kiai dengan bibir bergetar dan muka memerah.
Santri-santri itu menundukkan kepala. Mereka mungkin ingat Musa. Musa yang tak mampu meneruskan cecaran pertanyaannya kepada Adam. Musa yang harus menerima tindakan aneh Khidhr tanpa boleh mengajukan tanya. Dan santri-santri itu, juga para penentang baiat Muawiyah, tak mampu mendefinisikan takdirnya sendiri. *
Friday, April 09, 2004
Takdir
Posted by Mujtaba Hamdi at 5:19 PM 2 comments
Subscribe to:
Posts (Atom)