Majalah Syir'ah, Tahannus, Mei 2004
Oleh Mujtaba Hamdi
Suatu ketika malaikat pun tak tahu, apakah orang itu harus diantar ke surga atau diseret ke neraka. Kedua malaikat itu beradu mulut. “Dia tak pernah berbuat kebajikan secuil pun,” kata Malaikatul Azab yang bertugas menyeret manusia laknat ke neraka. “Tidak, dia telah bertaubat, dengan hatinya yang dalam, kepada Allah,” bersikukuh Malaikatur Rahmah yang tugasnya mengantar orang-orang bajik ke surga.
Manusia yang diperkarakan kedua malaikat itu baru saja menemui ajal. Di masa hidupnya, ia telah membantai 99 nyawa. Ya, 99 nyawa! Angka yang menyamai Asmaul Husna. Tapi, suatu hari, timbul niat di hatinya untuk bertaubat. Ia mencari orang alim yang bisa memberinya petunjuk. Lalu, ia menemui seorang alim. “Aku telah membinasakan 99 nyawa,” katanya, kepada orang alim itu. “Apakah aku bisa bertaubat?” Orang alim itu tersentak, “Apa? membunuh 99 jiwa...” Jawaban ini tak diharapkan si penanya, sehingga tak ada pilihan lain: ia bunuh orang alim ini. Genaplah angka jadi 100 nyawa!
Tapi, ia masih ingin bertaubat, dan ia datangi orang alim lainnya atas petunjuk masyarakat setempat. “Aku telah membinasakan 100 nyawa. Apakah aku bisa bertaubat?” tanyanya, seperti ketika bertemu orang alim yang dahulu. “Waihak, apa yang jadi penghalang taubatmu? Keluarlah dari kampung jahat tempat kau tinggal, dan pergilah ke kampung bajik, sembahlah Tuhanmu di sana,” kata si alim. Dan pergilah si pembunuh 100 nyawa itu ke kampung yang dimaksud. Tapi, di tengah jalan, ia menemui ajal.
Malaikat pun kebingungan, bahkan tak tahu apa yang menjadi hak manusia ini: laknat ataukah rahmat. Malaikat itu seperti tak lebih tahu dari manusia zaman ini. Abad ini, manusia-manusia yang menyatakan diri sebagai pembela kemurnian akidah, seolah selalu tahu mana yang berhak atas surga dan neraka. Tak sungkan-sungkan mereka menunjuk orang ini, kelompok itu, orang-orang di kampus ini, masyarakat dengan adat-kebiasaan itu... telah memasuki “wilayah neraka”. Mereka seperti menguasai benar garis batas antara surga dan neraka, bahkan seperti yang membuat batas itu sendiri.
Juga, mereka selalu mengabarkan itu kepada awam. Di masjid-masjid saat Jumat tiba, tempat-tempat salat di perkantoran hingga musala-musala di terminal bus kota... setumpuk buletin dan selebaran tak pernah terlewatkan. Tapi di abad 21 ini, untuk mengabarkan, tak hanya cara tertulis, rekaman video juga mereka gunakan. Semua menegaskan contoh-contoh “manusia neraka”.
Di berbagai kota, muncul selebaran yang mencatat deretan nama-nama—daftar manusia yang telah keluar dari garis batas surga. Nama Allah dan Rasul-Nya disebut di awal naskah. Ayat-ayat Al-Quran dikutip. Dan akhirnya, bak catatan malaikat, dicantumkanlah “dosa-dosa” yang dilakukan manusia-manusia dalam daftar tersebut.
Di forum-forum pengajian, diputar rekaman video yang mempertontonkan sosok-sosok—gambar manusia pelanggar batas surga. Sebelum video diputar, diberilah prolog tentang orang-orang yang telah melampaui aturan Allah, tentang orang-orang yang bakal celaka di neraka. Salah satunya adalah orang yang mengambil kaum nasrani sebagai sekutu, seperti dalam video itu.
Tapi, uniknya, selepas video diputar—juga di akhir kata pada selebaran itu—diutarakan kalimat imbauan yang bernada “bajik dan bijak”. “Saudaraku yang telah disesatkan setan, segeralah bertaubat. Kembalilah kepada Allah,” bunyi imbauan itu. Sepintas, ada nada tulus untuk mengajak ke surga. Tapi, sesungguhnya tersimpan rasa lebih tahu dari kedua malaikat yang bersengketa tadi, yakni bahwa seseorang telah “disesatkan setan”, telah melangkah ke jurang neraka. “Bertaubatlah,” kata itu memiliki daya luar biasa. Umat hampir-hampir tak merasakan adanya pihak yang sudah “divonis neraka”, juga bahwa ada yang sedang mengukuhkan diri “tahu jalur surga”.
Memang, dalam Al-Quran, kata “taubat” menyimpan imaji kuat tentang manusia yang melakukan “kesalahan besar”. Ada 80 kali lebih kata “taubat” dan derivasi-derivasinya (tâba-yatûbu-taubat-tâib-tub) disebut dalam kitab 30 juz ini. Dan hampir tak pernah berdiri sendiri, melainkan diiringi tuturan tentang makhluk yang menerobos batas kebenaran. Ada manusia kafir, munafik, musyrik, penganut Trinitas, penentang nabi-nabi, pengingkar wahyu Al-Quran, dan sebagainya.
Surah Hûd (11): 52, misalnya, menyebut kata “taubat” dalam relasi betapa kaum Hud sangat keras hati dan tak mau mengikuti kata-kata Nabi Hud. “Ya qawmi istaghfirû rabbakum wa tûbû ilaihi (Hai kaumku, beristighfarlah dan bertaubatlah kepada Allah Tuhanmu),” kata Hud pada akhirnya. Ada kesalahan besar yang dilakukan kaum Hud sehingga muncul kata “taubat”: kaum Hud tak mau menyembah Allah dan memilih menyembah tuhan-tuhan mereka sendiri.
Atau kata “taubat” dalam Ali Imrân (3): 90. Sebelum tiba pada kata “taubat”, dituturkan bagaimana suatu kaum membelot dari petunjuk Rasulullah. Padahal kaum ini sebelumnya sudah memberi kesaksian soal kerasulan Muhammad dan menyaksikan bukti-bukti kewahyuan. Kaum ini telah melakukan “kesalahan besar” yang, seperti juga dituturkan dalam ayat ini, bakal kena azab neraka. Dalam konteks ini, muncullah di ayat berikutnya kata “taubat”.
Dan kata “taubat” memang mengandung kekuatan imaji tentang “kembali”, seperti awal mula makna harafiahnya, al-rujû’. Manusia-manusia yang telah melakukan “kesalahan besar” kelak bakal celaka. Agar bisa selamat, manusia-manusia itu haruslah “kembali”. Begitulah kata “taubat” sudah hampir alamiah menyimpan gambaran tentang “kesalahan besar” dan “kembali”. Ini pun tertanam begitu rupa di ingatan umat Rasulullah hingga abad ini.
Dengan demikian, sungguh tepat pilihan kata “taubat” untuk mengukuhkan diri “tahu jalur surga” tersebut. Akan tetapi, bagaimana dengan kedua malaikat itu? Kedua malaikat itu tak tahu jalur mana yang harus dipilihkan buat si pembunuh 100 nyawa! Seperti tercatat dalam hahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, dan Sunan Ibn Majah, kedua malaikat itu harus menanti “keputusan resmi” dari Allah.
Dan benar, datanglah seorang malaikat yang sudah membawa pesan dari Allah. “Ukurlah jarak antara dua kampung itu,” kata malaikat ini. “Mana yang paling dekat, itulah bagiannya.” Maksudnya, jika yang paling dekat kampung jahat, bagiannya neraka, tapi jika lebih dekat ke kampung bajik, bagiannya adalah surga. Kedua malaikat yang berseteru tadi mengukur. Hasilnya, kampung bajik lebih dekat sejengkal!Begitulah, malaikat pun tak tahu, dan akhirnya “keputusan resmi” Allah pula yang harus bicara. *
Saturday, May 08, 2004
Taubat
Posted by Mujtaba Hamdi at 5:51 PM 0 comments
Subscribe to:
Posts (Atom)