Majalah Syir'ah, Tahannus, September 2004
Oleh Mujtaba Hamdi
Ini sebenarnya kejadian biasa. Saat sore berubah petang, dan salat magrib ditunaikan, pengeras suara di masjid kecil pojok Ibu Kota itu mulai memperdengarkan getar suara sang ustad. Cukup keras juga suara itu, terdengar jelas hingga jarak 500 meter. Barangkali, terdengar juga oleh tukang siomay yang baru memulai tugasnya, di ujung pertigaan gang itu. Sang ustad berkisah tentang banyak hal. Tapi, dia selalu menekankan satu hal: akhirat adalah nomor satu. Dunia sekadar ujian bagi orang mukmin. Dunia adalah fana, sementara. Sedangkan akhirat itu baka, abadi.
Sang ustad baru menuntaskan mauizahnya saat Isya tiba. Kejadian yang sungguh biasa. Tapi, ada yang tak biasa: mauizah serupa ternyata juga bergema, di sana. Setiap sebelum berita pagi disiarkan, di layar kaca tampak wajah seorang ustad tersenyum. Kali ini tak cuma jarak 500 meter, seantero Nusantara dapat menangkap jelas gambar dan suaranya. Sang ustad juga bercerita banyak hal, mengutip firman Allah Ta’ala, menyitir sabda Rasul mulia. Ia bercerita tentang kerusakan dunia, ketamakan manusia, tapi juga tentang godaan gemerlap harta, dan tahta. Kata ustad, banyak manusia terlalu mementingkan kehidupan dunia, dan melupakan akhirat yang sesungguhnya paling utama. Kehidupan dunia ini ibarat panggung, yang sementara, yang pada saatnya nanti layarnya akan ditutup selamanya. Akhiratlah pertama, dunia kedua.
Di mana-mana, suara itu ternyata sama: fokuslah pada akhirat. Di salat-salat berjamaah, salat-salat Jumat, ayat yang dipilih juga sama: wal-âkhiratu khayrun wa abqâ, dan akhirat itu lebih baik juga lebih kekal. Ini bagian surat al-A’la, atau biasa disebut surat sabbihis. Selain itu, yang sering dipilih juga surat ad-Dhuha, yang pada ayat ke-4 berbunyi, wal-âkhiratu khayrul laka minal ûla, dan kehidupan di akhirat itu lebih baik buatmu (Muhammad) daripada kehidupan dunia.
Sekarang, cobalah buka-buka kitab tafsir tentang ayat-ayat ini. Para mufasir, selain mempertegas lagi makna ayat, juga mengutip kiasan-kiasan yang memperdalam makna ‘kekekalan akhirat’ versus ‘kefanaan dunia’. Ibnu Katsir, misalnya, saat memberi tafsir adh-Dhuha (93): 4 memilih kiasan dari hadis riwayat al-Turmudzi dan Ibnu Majah. Jika aku ibarat orang yang berteduh, kata Nabi dalam hadis tersebut, maka dunia itu laksana bayang-bayang di bawah pohon: orang berteduh sebentar kemudian meninggalkannya. Pilihan yang tepat. Ilustrasi yang begitu dalam. Dunia tak lebih dari bayang-bayang bawah pohon: disinggahi untuk ditinggalkan.
Lain lagi dengan al-Qurthubi. Saat menafsiri surat al-A’la (87): 17, al-Qurthubi mengutip tamsil milik Malik bin Dinar, salah seorang tokoh Tabiin, generasi pascasahabat. Kata Bin Dinar, “Andai dunia itu sebuah emas yang fana, dan akhirat itu sebuah keramik abadi, maka sudah seharusnya (kita) memilih keramik yang abadi. Apalagi kenyataannya, akhirat itu sebuah emas abadi sedangkan dunia merupakan keramik yang fana.” Ini juga metafor yang kuat. Seindah-indahnya emas, jika ia suatu saat akan rusak dan hancur, maka lebih baik sebuah keramik abadi, yang meskipun tak lebih indah dari emas tapi keindahannya sempurna, tak bakal luntur. Dan, akhirat bukanlah keramik, melainkan emas, yang abadi pula.
Semua bersuara sama, akhirat lebih unggul dari dunia. Ini seperti sudah menjadi kebenaran hakiki, sehingga kita sulit menyangkalnya. Bahkan, dalam praktik hidup sehari-hari, sadar atau tidak, kita sulit untuk tidak memisahkan secara tegas antara perbuatan ‘dunia’ dan perbuatan ‘akhirat’. Kita kemudian menilai, ‘perbuatan akhirat’ jauh lebih bagus ketimbang ‘perbuatan dunia’. Tapi, di sana, seorang Rabiah al-Adawiyah ternyata sangat bernafsu ‘membunuh’ akhirat.
Rabiah al-Adawiyah, sang pecinta Allah itu, konon pernah berlari-lari, sembari tangannya memegang obor api dan tangan satunya membawa sebuah ember berisi air. Orang-orang yang menyaksikannya tercengang. “Apa arti semua ini? Hendak ke mana engkau?” tanya mereka kepada Rabi’ah. “Aku akan menyalakan api di surga, dan menyiram air ke dalam neraka,” jawab Rabi’ah. Rabi’ah mau memadamkan api neraka, dan memanaskan kesejukan surga. Rabi’ah hendak ‘membunuh’ akhirat.
Kita sulit rasanya membayangkan dunia tanpa akhirat. Namun, bisa jadi memang, dunia lebih utama dari akhirat. Rabi’ah lebih memilih amal ketimbang imbalan. Dan, amal hanya ada di dunia. Di akhirat, tak ada amal, bahkan di sana amal jadi tak berguna, sia-sia. Yang ada di akhirat adalah imbalan, pahala maupun siksa, dan itu urusan Allah, manusia tak bisa turut campur. Lantas, bagaimana dengan begitu banyak ayat yang mengatakan akhirat lebih utama dari dunia? Ya, agaknya ketika bicara soal dunia, pikiran kita langsung memperlawankannya dengan akhirat.
Di al-Quran, ada 115 kali kata akhirat disebut secara eksplisit. Kata dunya juga disebut persis 115 kali. Kadang kata akhirat bertemu dengan kata dunya dalam satu ayat, kadang tidak. Tapi lebih sering bertemu, dan dalam posisi yang berhadap-hadapan. Contoh yang paling akrab dengan kita, ya, dua ayat yang disebut di awal tadi. Bahwa dunia senantiasa berada pada posisi inferior, dan akhirat selalu superior. Istilah dunya agaknya memang ‘dicipta’ khusus untuk memposisikan akhirat sebagai yang unggul. Secara bahasa pun, dunya sudah bermakna ‘rendah’, lawan dari ulya ‘agung’.
Karena itu, ketika disebut dunia, pikiran kita segera terbawa oleh oposisi ‘dunia versus akhirat’. Tak bisa lain. Kita tak lagi menyadari bahwa dunia adalah ruang kita hidup, ruang kita berbuat salah, ruang kita bertindak benar, ruang menjalankan segala tindakan. Dunia adalah akar, tempat kita berpijak. Dengan kata lain, dunia adalah bumi, dan marilah kita lihat kata ‘bumi’ dalam al-Quran.
Maka, sungguh mengejutkan, kata ardh ‘bumi’ disebut lebih dari empat kali lipat kata akhirat, yakni 461 kali. Kata ardh memang digunakan dalam konteks yang berbeda-beda. Kadang disebut dalam konteks planet, yang bersandingan dengan bintang-bintang, juga bulan. Hanya, yang paling menonjol adalah bumi dalam konteks ‘alam dunia’. Simak ayat yang cukup populer ini: innî jâ’ilun fil ardhi khalîfah, sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi. Atau wa lâ tufsidû fil ardhi ba’da ishlâhiha, janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya. Ayat sejenis ini banyak bertebaran di lembar-lembar al-Quran. Bumi, yang adalah ‘alam dunia’, begitu penting artinya, sehingga Allah mengecam keras orang-orang yang berupaya merusaknya.
Namun, tak usah heran jika ‘dunia sebagai bumi’ ini nyaris tak digemakan. Saat menjumpai yang tersisih, memang lebih mudah memberi jawab dengan akhirat ketimbang mencari sebab-musabab dunia. Jawaban akhirat lebih membuat kita kerasan, merasa nyaman. Seperti ketika penguasa terkuat negeri ini menyebarkan filosofi: dunia sekadar buat mampir ngombe, numpang minum. Dan, kita kerasan selama lebih tigapuluh tahun di bawah cengkeramannya. *
Sunday, September 05, 2004
Akhirat
Posted by Mujtaba Hamdi at 5:32 PM 0 comments
Subscribe to:
Posts (Atom)