Majalah Syir'ah, Tahannus, Agustus 2005
Oleh Mujtaba Hamdi
Mereka puluhan, ratusan, ribuan... ya, ribuan. Mereka bergerak serentak, berteriak-teriak, dengan suara-suara yang seperti sudah terlatih, dengan alunan serempak. Ada seorang yang berteriak lebih panjang, lebih prosa, kadang dengan getaran serak (ah, dia juga tersedak) tapi selalu diikuti teriakan padu yang menderu. Di tangan-tangan mereka, ada kayu, ada palu, ada besi, ada batu. Mereka hendak melabrak. Siapa mereka?
Bukan, bukan serdadu. Mereka juga bukan barisan pandu. Mereka punya nama sendiri—dan entah siapa pula yang menghadiri upacara pemberian namanya tapi mereka sudah mengenggam nama sendiri, erat-erat: umat. Ya, umat. Punya makna tentu saja. Seperti kata orang, nama adalah doa, mereka pun menanamkan harapan dari daya sebuah nama. Dan entah, apa sebenarnya yang tengah mereka harapkan dengan nama ‘umat’ itu. Mereka sendirilah yang paling tahu. Tapi, bisa saja mereka berharap agar disayang oleh Rasulullah. Semua orang, dengan berbagai nama, berharap cinta kasih Rasulullah, tentu saja. Tapi, sebutan ‘umat’ itu istimewa. Rasulullah menggumamkan berkali-kali lafal itu bahkan ketika menjelang akhir hayat.
“Ummati, ummati, ummati,” begitu kata Rasulullah. Umatku, umatku, umatku--disebutnya tiga kali. Waktu itu, Rasulullah sudah tak berdaya, terbaring di atas dipan sederhana. Fatimah, putri tercinta, menunggui dengan setia. Tiba-tiba, terdengar orang mengucap salam dari luar. “Boleh aku masuk?” kata orang itu. Fatimah menjawab dengan kata maaf, ayahandanya sedang sakit dan tak bisa ditemui. Fatimah kembali menemani si ayah. “Siapa itu, anakku?” tanya Rasulullah.
Fatimah menjawab tidak tahu, ia baru pertama kali melihat orang itu. Rasulullah menatap dalam-dalam wajah Fatimah, seperti merasakan sebuah saat terakhir, dan kemudian mengucap, “Ketahuilah, dialah yang memisahkan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan dunia. Dialah malaikat maut.” Fatimah spontan tak mampu menahan gemuruh dadanya, ia menangis mengisak. Tak lama kemudian malaikat maut menghampiri. Rasulullah tanya kenapa Jibril tak turut serta. Oleh pertanyaan itu, maka dipanggillah Jibril, dan ketika sudah tiba, Rasulullah segera bertanya, dengan suara yang kian lemah, “Jibril, tolong jelaskan padaku, apa hakku nanti di hadapan Allah?”
“Pintu-pintu langit,” kata Jibril, “telah terbuka. Para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu.” Rasulullah tidak serta merta gembira, sebaliknya malah tampak cemas. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” akhirnya Jibril bertanya. Rasulullah malah bertanya kembali kepada Jibril, “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” Oh, Rasulullah rupanya mencemaskan umat. Jibril pun segera menjawab, “Jangan kuatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya’.”
Semua terdiam. Detik-detik penghujung nafas segera terasa. Izrail, si malaikat maut, perlahan-lahat menarik ruh Rasulullah dari raga fananya. Fatimah memejamkan mata, menutup tangan pada muka. Ali bin Abi Thalib, suami Fatimah yang berada di sebelahnya, menunduk dalam-dalam. Badan Rasulullah makin dingin, bibir beliau bergetar, seperti menggumamkan sesuatu, maka Ali pun mendekatkan telinganya ke bibir Rasul yang memucat itu, “Ummati, ummati, ummati.” Rasulullah menghembuskan nafas pamungkas.
Siapa yang tak berharap namanya disebut-sebut oleh Sang Nabi bahkan di detik-detik terakhir hidupnya? Siapa yang tidak girang memperoleh kasih dari Manusia Agung sepanjang zaman? Dengan memakai nama ‘umat’, terbersit harapan untuk didekap cinta Rasulullah. Wajar. Wajar jika nama ‘umat’ dipilih. Apalagi ditambah dengan sebuah “nama belakang” yang kokoh: Islam. Sehingga menjadi: ‘umat Islam’. Maka semakin dekatlah harapan itu pada yang nyata. Tapi mereka, yang bergerak padu layaknya pandu itu, menggenggam palu, kayu, juga batu. Apakah mereka sedang mengejar kasih Sang Nabi?
Mungkin, sangat mungkin, mereka ingin meraih kasih itu. Namun bisa jadi mereka lupa bahwa kasih dan palu jarang bisa bertemu, mustahil malahan. Ah, tapi ‘umat’? Buat apa nama itu? Tidak mungkin tanpa guna, tidak mungkin begitu saja diingat dan lalu disemat. Bisa saja mereka lupa kasih Sang Nabi dan karenanya tak canggung menenteng palu dan kayu, tapi mereka barangkali tengah mengingat, dan terus mengingat, bahwa dengan nama ‘umat’ mereka percaya yang dilakukan sekarang adalah amar makruf nahi munkar.
Mereka mengingat sebuah ayat—yang sudah terkunyah sedemikian rupa hingga menjadi sekadar semangat. “Hendaklah di antara kamu ada umat,” demikian ayat itu, “yang mengajak pada kebajikan; menyeru pada yang makruf dan mencegah yang munkar.” Mereka ingat kata itu, ‘umat’, tapi bisa jadi tak terlalu peduli dengan apa yang dimaksud munkar. Yang munkar bisa didefinisikan kemudian, sebab yang penting mereka, dengan kata umat yang tersemat, menjalankan misi “mencegah” yang munkar itu.
Dan saat itu nama tak lagi sebuah doa, tapi sebuah kekuasaan. Ketika ada orang menegur, “Mengapa menenteng palu, menggenggam kayu?” Dengan mudah akan dijawab, “Ini aspirasi umat.” Dengan kalimat ini, si penegur akan bungkam. ‘Umat’ bisa menjadi amunisi untuk membekab, untuk membuat orang terpaksa mengangguk, bahkan untuk mendefinisikan yang munkar itu sendiri. Ketika sebuah kelompok menyebut diri sebagai ‘umat’, mereka tak lagi sekadar sebuah kumpulan. Mereka sudah menjadi kobaran.
Lihat.... Mereka ribuan, dan dengan membawa nama lengkap ‘umat Islam’, mereka seolah menjelma menjadi jutaan, puluhan juta, ratusan juta, miliaran.... Dan yang kecil itu, kerumunan mini itu, tak boleh memakai nama ‘umat’. Mereka dibekap, dilucuti dengan kata ‘sesat’. Mereka dikutuk, diserbu, oleh yang mengabsahkan diri dengan nama ‘umat’. Ya, mereka, mereka yang menggenggam kayu itu. Inikah ‘umat’ yang disebut Nabi saat nafas pamungkas?*
Friday, August 12, 2005
Umat
Posted by Mujtaba Hamdi at 11:58 AM 0 comments
Subscribe to:
Posts (Atom)