Monday, October 09, 2006

Masjid

Majalah Syir'ah, Tahannus, Oktober 2006
Oleh Mujtaba Hamdi

Apa beda antara bar dan masjid? Yang pertama tempat melepas lelah, sedang yang terakhir tempat beribadah. Sejak dulu, semua tahu itu. Tapi, kini orang mulai tahu apa yang tak beda. Ya, keduanya telah menjadi tempat yang penuh rasa gemetar, rasa waswas, rasa takut. Bar dan masjid seperti harus selalu siap, setiap saat, jika tiba-tiba sebarisan pasukan berbendera syahadat menyeruduk masuk, dengan pentungan dalam genggaman. Entah karena cap maksiat, ataupun stempel sesat.

Sudah puluhan masjid remuk, ya, karena ia mendapat stempel sesat. Sebuah masjid bukan hanya digasak setelah sekian lama melayani warga, melainkan, seperti terjadi bulan lalu di Tanah Minang itu, ia dihajar bahkan sebelum sempat berdiri. “Orang Islam kok menghancurkan masjid,” kata seorang mubalig kampung, terheran-heran.

Heran, sebab seorang muslim senantiasa percaya masjid itu tempat suci, tempat seorang 'abid menjalankan laku spiritual paling intim dengan Sang Ma'bud: sujud. Kita ingat, Rasul pernah bersabda, “Saat paling dekat seorang hamba kepada Tuhannya adalah ketika dia bersujud.” Yang paling agung dalam ritual itu laku sujud, bukan rukuk, bukan tasyahud. Itulah mengapa, tulis Badruddin az-Zarkasyi dalam I'lam al-Sajid bi Ahkam al-Masajid, masjid dinamai masjid, tempat sujud, dan bukan marka', tempat rukuk.

Sudah tentu mengherankan. Jangankan meruntuhkan fisik masjid, seorang muslim bahkan yakin, merusak suasana sudah merupakan 'dosa'. Rasul, sepulang dari pertempuran Khaibar, sempat memperingatkan para sahabat untuk tidak mengunyah bawang. “Siapa yang memakan dari pohon ini,” kata Rasul sambil menunjuk pada pohon bawang, “maka janganlah dia memasuki masjid.” Masuk akal, aroma bawang yang menyengat bisa jadi akan membuyarkan konsentrasi 'abid yang sedang ber-taqarrub.

Dan muslim mana yang tidak mengharap tegaknya masjid? Masjid senantiasa menjadi 'lahan pahala' yang subur. Selalu diajarkan betapa berlipatgandanya pahala ketika salat berjamaah dijalankan di masjid. Betapa pula Rasul dan para Sahabat dulu senantiasa beriktikaf lama-lama di sana. Orang berniat saja, untuk ke masjid, sudah mendapat pahala. Begitu pun, semakin sulit perjalanan seorang muslim menuju masjid, semakin tinggi pahala yang diperoleh. "Sesungguhnya, orang yang paling besar pahalanya ketika mendirikan salat," kata Rasul, "adalah yang paling jauh perjalanannya, yakni langkahnya menuju masjid."

Setiap muslim tampak tak pernah ragu untuk memandang agung sebuah masjid. Tapi berbagai kenyataan yang berlangsung lain itu mau tak mau memicu pertanyaan: bagaimana mungkin muslim merusak tempat suci sendiri, ladang pahala terindah? Apakah perusak itu sudah tak percaya itu semua?

Ya... Mungkin, dan tentu saja, mereka percaya, mereka meyakini itu semua. Tapi, mereka juga percaya pada hal lain: bahwa masjid juga merupakan etalase, juga sebuah papan iklan. Di setiap kota, masjid-masjid berdiri gagah, dengan arsitektur paling mutakhir. Pejabat penguasa wilayah memberi pidato peresmian, mengabarkan dengan bangga bahwa masjid ini yang ter- se-, terbesar se-Asia Tenggara, termegah se-Nusantara, terindah se-Indonesia, terkokoh se-Asia, dst. Tokoh-tokoh penting diundang untuk menggoreskan tanda tangan pada prasasti. Semua seperti sederetan kata-kata iklan milik si pejabat: pilihlah saya lagi, karena saya telah berhasil membuat masjid termegah.

Masjid-masjid menjadi layaknya bendera. Ia menjadi lambang bagi pejabat x, partai y, atau ormas z. Tak jarang, nama-nama yang digunakan terang-terangan menunjukkan siapa 'sang tuan'. Sebuah partai yang di zamannya selalu mengampanyekan pembangunan menamai masjidnya Baitul Makmur. Seorang penguasa, yang telah almarhum itu, ketika sedang jaya-jayanya, membangun masjid dengan nama dirinya, yang kebetulan serupa dengan nama surat pada al-Quran. Bendera-bendera itu berkibar dengan satu tugas: memantulkan kuasa si tuan.

Dan ketika ada bendera lain dipancangkan, begitu kecil, tapi dirasa akan jadi kerikil yang merusak kemegahan bendera-bendera lain, maka bersiap-siaplah pasukan untuk merobek dan membakar, melumatkan bendera kecil itu tanpa sisa. Masjid-masjid itu, bendera-bendera kecil itu, telah mengiklankan kuasa lain, sehingga layak dirobohkan. Ia menjadi ancaman, sebab telah berani mempromosikan praktik lain, pandangan lain, suara lain. Tanpa kata-kata memang, tapi sang pasukan telah meyakini bahwa sebuah masjid mewakili ribuan kalimat.

Supaya lebih kuat 'kelainan' itu, hingga lebih sah untuk dihancurkan, sang pasukan menambahi sendiri kalimat-kalimat tak terucap itu. Bahwa masjid-masjid itu tak lain merupakan wujud promosi akan adanya nabi lain, kitab lain, syahadat lain, kiblat lain, tatacara lain, dan seterusnya. Dus, ada bahaya mengancam, perlu segera dibinasakan.

Dan di mana lalu status suci masjid? Ya, di saat-saat seperti itu, kita tak lagi mendengar ujaran tentang pahala besar yang dijanjikan bagi orang yang mendirikan masjid. Kita tak mendengar lagi ajakan penuh semangat, "Barangsiapa membangun masjid (di dunia), maka Allah kelak akan membangunkan istana di surga." Suara itu seolah lenyap, dan berganti "bakar masjid itu", "runtuhkan tempat terkutuk itu", "jangan biarkan bangunan itu berdiri".

Masjid berubah, dari sebagai tempat sujud, menjadi sasaran sundut. Yang beriktikaf di dalamnya tak lagi dinilai sebagai manusia alim yang tengah merapatkan hubungan dengan Tuhannya, melainkan makhluk laknat penyebar sesat. Salat di atas lantainya pun tak lagi dipandang bernilai pahala, melainkan dosa. Melangkah menujunya tak lagi dinilai tindak kebajikan. Tiba-tiba masjid menjadi barang najis. Satu-satunya tindakan yang berpahala adalah membuang dan melenyapkannya.

Ketika begini, apa beda bar dan masjid? Tidak ada beda. Di mata sang pasukan, keduanya sama. Dua-duanya adalah papan iklan. Yang satu dianggap mengiklankan kemaksiatan, sedang yang kedua dinilai mempromosikan kesesatan. Keduanya sama-sama harus dihancurkan. *

1 comments:

oRiDo said...

Assalamu'alaikum wr.wb.

ijin nge-link posting artikel "Masjid" yah..

tetep beramal..
tetep istiqamah..
tetep jaga ukhuwah islamiyah..

wassalam.