Majalah Syir'ah, Tahannus, Mei 2006
Oleh Mujtaba Hamdi
Teks-teks Arab dia letakkan di sela-sela huruf Latin, sedikit hati-hati. Ayat-ayat al-Quran itu mesti dia taruh persis di atas kalimat-terjemah, yang sudah tertata lebih dulu. Penataletak itu sedang mengatasi tugas yang jarang dia tangani. Biasanya dia menggarap tata letak buku atau majalah tanpa sisipan aksara Arab. Kali ini, dia harus menghadapi teks asli al-Quran, dan mesti dia tempatkan pada urutan yang tepat. Jika keliru, pembaca bisa bingung: nash tak cocok dengan versi Indonesianya.
Dan benar, apa yang dikuatirkan terjadi juga. Banyak ayat salah tempat, meleset dari terjemahan semestinya. Ruwet. Ayat yang lain tercantum lebih dari yang seharusnya: selayaknya yang dikutip penggalan tertentu, malah penggalan lain yang masuk. Amburadul. Untungnya, si bos, melihat kekacauan ini, tersenyum saja, dan meminta perbaikan segera dilakukan. Hanya, si bos meninggalkan sindiran, “Kaum tidak beriman sih....” Yang disindir juga cuma mesem, sembari jari-jarinya menggerakkan mouse dan keyboard, melakukan tata ulang.
Peristiwa kecil ini memang tak terlalu istimewa, tapi ia telah menyisakan pertanyaan: apa benar si penataletak itu kaum tidak beriman? Yang kaum beriman, lalu, siapa? Barangkali dia awam aksara Arab. Dia Muslim? Iya, muslim, seperti juga nyaris semua muslim negeri ini, yang hanya tahu Arab sekelumit--sebagian lain malah sama sekali buta. Kebanyakan muslim negeri ini tahu Arab hanya ketika mengaji di masjid atau musolla sekitar, di masa kecil biasanya. Selebihnya, babar blas, sama sekali nihil.
Apakah mereka ini juga bagian kaum tak beriman? Ah, tak serius, tak serius, guyon. Canda, seperti juga canda yang kerap beredar di pesantren, “Hai orang-orang yang beriman, yang tidak beriman tidak hai....” Ini barangkali juga sekadar main-main, tak benar-benar membikin pagar: siapa yang beriman, siapa yang tidak.
Di al-Quran sendiri begitu banyak sapaan “hai orang-orang yang beriman”. Sapaan ini kadang, dan seringnya, diikuti perintah, bisa berupa kewajiban puasa, salat, zakat, dan seterusnya. Nah, kalau seseorang tidak dalam kategori “kaum beriman”, bisa saja diartikan bahwa dia bukanlah orang yang disapa dalam ayat itu. Bahasa lain: dia bukan termasuk orang yang dikenai perintah dan tanggung jawab itu. Dia bebas untuk mengabaikan perintah-perintah itu, wong tidak termasuk “kaum beriman”. Wah, bisa kacau.
Tapi, di sekeliling kita, masih hingga kini, diam-diam sedang bergerak fenomena serius. Soal mana “kaum beriman” dan mana “kaum tak beriman” menjadi perkara tak main-main. Bukan canda, tidak guyon. Perasaan menjadi “kaum beriman” telah mencipta batas siapa yang berhak berkuasa dan siapa yang hanya boleh mengangguk. Yang menganggap diri “kaum beriman” merasa harus lebih dihormati dan dijunjung tinggi: pendapatnya wajib diikuti, kehendaknya harus dituruti, komandonya mutlak dipatuhi.
Sementara yang dianggap bukan kaum beriman, harus tunduk, tak boleh menentang kehendak kaum beriman. Kaum tidak beriman itu “bengkok”, harus menuruti kata kaum beriman yang “lurus”. Kalau tidak mau patuh, ya, “ditindak”. Masih ngeyel, ya, dihantam. Kaum beriman berhak melakukan ini pada yang bukan kaum beriman.
Mengerikan, tapi demikianlah yang kerap kita saksikan. Dengan teriakan takbir, dengan melabeli yang lain sebagai kaum tak beriman, mudah saja sekompok orang meremukkan kelompok lain. Melanggar hukum? Ah, kata hukum itu sendiri seperti sudah lenyap dari lema kamus. Hukum yang ada ini dianggap cuma bikinan “kaum tak beriman”, makanya tak perlu dianggap ada. Kalaupun ada, ya, harus tunduk pada kehendak “kaum beriman”. Selesai.
Yang macam begini barangkali hanya percaya gambaran “kaum beriman” yang dia buat sendiri, dia pagar-pagari sendiri. Ya, tentu dia barangkali tetap memercayai “kaum beriman” seperti yang umum dipercayai banyak orang, bahwa “kaum beriman” bukan lain adalah yang memercayai (atau mungkin sekadar menghafal?) enam rukun iman itu, mulai dari percaya kepada Allah, malaikat, kitab suci, nabi, hingga pada akhirat dan takdir. Seperti dalam hadis Nabi itu, ketika tiba-tiba didatangi seorang lelaki misterius (yang diketahui kemudian adalah Jibril) menanyakan soal Islam, Iman, Ihsan. Kutipan hadis tersebut umum diberikan orang ketika merespon pertanyaan soal apa itu iman dan siapa itu kaum beriman.
Tapi entah, apakah juga masih dipercaya sebuah insiden di hadapan Nabi ini: Pernah seorang Arab Badui mengatakan pada Rasul: “Aku telah beriman”. Oleh Allah, Rasul diminta bilang ke mereka, “Tidak, kalian belum beriman. Katakan saja ‘kami telah tunduk’.” Peristiwa ini dicatat dalam al-Quran surat al-Hujurat (49) ayat 14. Orang Arab Badui itu belum bisa menyebut diri ‘beriman’. Dia sudah tunduk, islam, tapi belum iman. Banyak mufasir memaknai iman di sini sebagai ‘kemeresapan dalam hati’. Dan, jika peristiwa ini dipercaya, sebuah pertanyaan akan segera muncul dalam diri: apakah yang menguasai hati ini iman atau pamrih, atau justru semacam amarah bercampur arogansi?
Hmm, tak ada yang lebih tahu kadar hati kecuali si empu sendiri. “Kaum beriman” yang ada dalam sebuah hadis Rasul berikut mungkin juga tersingkir perlahan dari ruang percaya. Rasul pernah mengatakan: bukanlah termasuk kaum beriman orang yang tidak mengasihi sesamanya seperti mengasihi diri sendiri. Lengkapnya begini: la yu’minu ahadukum hatta yuhibbu li akhihi ma yuhibbu linafsih. Hadis ini muttafaq alaih, tingkat kesahihannya tak diragukan. Dan semua tahu, yang masih punya rasa kasih akan menilai sesama sebagai manusia yang sederajat, bukan sekumpulan binatang.
Dan tidak hanya di ruang percaya, tapi juga di syaraf ingatan. Diam-diam, secara terus menerus ditumbuhkan ingatan “kaum beriman” sebagai yang wajib menghancurkan “kaum tak beriman”. Gambar yang meletakkan “kaum beriman” sebarisan dengan “kaum lain” diembargo, diusir. Meski, ‘kesebarisan’ itu direkam dalam kitab suci: “Sesungguhnya orang yang beriman, orang yahudi, orang nasrani, dan shabiin, yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan berbuat baik, maka buat mereka pahala dari Tuhan mereka....”
Ayat 62 Surat al-Baqarah ini hanya ditengok sambil lalu, atau dilirik dengan cara lain sehingga ‘kesebarisan’ itu tak pernah terlihat, bahkan sekadar melintas di pikiran. Dan tumbuh suburlah ingatan tentang “kaum beriman” yang wajib berkuasa atas “kaum tak beriman”. Tak ada percakapan, tak ada kesederajatan, yang ada: penguasaan atas “yang lain”.*
Tuesday, May 09, 2006
Iman
Posted by Mujtaba Hamdi at 2:47 PM 0 comments
Subscribe to:
Posts (Atom)