Friday, September 15, 2006

Jilbab dan Islam yang Cair

Common Ground News, 8 September 2006
Oleh Mujtaba Hamdi

Selembar jilbab bisa memancing banyak pertanyaan. Setidaknya buat Shazeera Ahmad Zawawi, 27 tahun. Sebab Gee, sapaan akrabnya, adalah aktivis hak asasi manusia, sekaligus seorang muslim dari negeri di Asia Tenggara yang tengah bersemangat memacu deru islamisasi--Malaysia. Dan Gee mengenakan jilbab. Pada 2004, ketika menghadiri sebuah konferensi hak asasi manusia di Kanada, Gee menerima tatapan mata penuh pertanyaan, “Bagaimana jilbab bisa berdamai dengan hak asasi manusia?”

Mereka yang bertanya itu melihat jilbab dengan rasa tak percaya. Gee ditanya soal sikapnya terhadap homoseksualitas, juga poligami dan hak perempuan. Ada tersirat kegundahan, dalam pertanyaan itu, bahwa jilbab akan menyingkirkan homoseksualitas, memenangkan poligami dan mengabaikan hak perempuan. Mereka mungkin tak tahu, Gee telah memiliki jawaban yang tak rumit, “Aku muslim, tapi aku human being at the first place.” Gee akan melihat orang lain, pertama-tama, sebagai manusia dengan segala kebebasan dan hak-haknya, sebelum identitas lain. Seperti juga Gee melihat dirinya sendiri ketika, dengan jilbab yang menutupi kepala hingga bahu itu, dia memasuki pub-pub atau berjingkrak dalam konser-konser musik rock. Gee, di luar sebagai perempuan berjilbab, adalah manusia.

Mereka yang bertanya itu mungkin juga tak tahu, Gee hidup dengan Islam yang bergolak, bukan Islam yang mati. Islam, yang masuk dalam kepala, hati, dan nafas Gee, adalah Islam yang turut bergelimang kehidupan nyata, tidak sombong terhadap cara hidup di sekeliling, lebih suka menjalin dialog dengan kenyataan yang, bagi sebagian orang, kadang tampak kontras. Dalam bahasa Gee sendiri, “bukan Islam yang menghukum”.

Sejak awal, Gee sudah menghirup nafas “oposisi”. Kakeknya dulu adalah tokoh penggerak Islam yang menentang kekuasaan mapan. Haji Mahmud, si kakek itu, terlibat dalam PKMM, Parti Kebangsaan Melayu Malaya, sebuah “gerakan kiri” di era kolonial yang menimba semangat gabungan Islam-nasionalisme-sosialisme. Begitu pula Gee, ketika menunggu waktu masuk universitas, lebih memilih memberikan waktu buat lembaga les Bahasa Inggris milik PAS, Parti Islam se-Malaysia, sebuah partai oposisi paling gigih di negeri itu. Padahal, pada saat yang sama, rekan-rekan Gee lebih suka mengumpulkan uang saku dengan bekerja di pabrik-pabrik.

Nafas oposisi, denyut Islam yang bergolak--itu pula yang membuat Gee bergabung dengan PMI, Persatuan Mahasiswa Islam, ketika dia resmi menjadi mahasiswa Universiti Malaya. PMI dikenal sebagai organisasi mahasiswa binaan PAS. Suaranya seringkali kritis terhadap pemerintahan. Pernah, PMI menggelar demo soal kasus Rafidah Aziz, menteri perdagangan internasional dan industri. Kebijakan Rafidah soal izin impor mobil diduga penuh skandal korupsi. Tak banyak mahasiswa yang berani meneriakkan kasus ini. PMI dan Gee, yang menjadi penggerak demo, di antara yang sedikit itu.

Tapi PMI pun bukan tempat yang cocok bagi Gee yang menghayati Islam yang cair, secair kehidupan itu sendiri. Gee kerap menerima teguran dari senior-senior sendiri, malah sejak saat-saat pertama Gee diakui sebagai anggota. Jibab itu, ya, jilbab itu pula yang mula-mula jadi sorotan. Kain yang menutup kepala hingga bahu itu belum cukup dianggap “islami” oleh si senior. Gee diharuskan mengenakan yang lebih lebar, menjuntai dari kepala hingga di bawah dada. Gee menolak. Senior lebih keras. Debat. Gee tetap berkukuh. Dia bilang ke senior bahwa jilbab macam itu sudah dipakai Gee sejak sekolah menengah, bahwa dia merasa nyaman dengan itu dan tak mau mengubah.

Gee seperti hendak menunjukkan, yang “islami” bukanlah sebuah kehendak ganas untuk menaklukkan “yang beda” melalui sebuah “rumusan-jadi”, melainkan sebuah kerelaan hati membuka diri pada yang hidup, yang serba bergejolak, yang menunggu dipahami dengan sikap rendah hati. Maka itu, Gee juga menolak bergabung ketika PMI menggelar demo menentang sebuah konser musik di kampus tertua di Malaysia itu. Bukan konser rock yang rancak--aliran kesukaan Gee--melainkan musik India yang mendayu. Gee tahu, mereka yang meneriakkan yel-yel anti-konser itu diam-diam menggemari tabuhan tabla dari tanah Hindustan itu. Mereka hanya cemas jika, tanpa aksi tolak itu, mereka akan kehilangan label “islami” yang, sebenarnya, hasil rumusan mereka sendiri.

Sedemikian rupa, mereka akan mempertahankan apa yang “islami”, dan berupaya menghilangkan segala ancaman yang hendak melunturkannya. Termasuk ancaman dari seorang Gee--anggota sendiri. Gee punya suara keras. Suka tertawa lepas. Ketika berbicara dengan rekan laki-laki, matanya--di balik kacamata minus itu--akan biasa saja menatap lawan bicara. Gee suka pakaian warna mencolok. Dia juga suka mengoles bibirnya dengan lipstik. Ini semua dianggap ancaman terhadap apa yang disebut tingkah laku “islami” oleh senior-senior Gee.

Gee ditegur, diminta agar mengubah penampilan. Ketika Gee bertanya kenapa, si senior segera menjawab bahwa semua penampilannya itu akan mudah menarik perhatian lelaki--yang tak seharusnya dilakukan anggota organisasi mahasiswa berlabel “islam”. Gee sudah siap dengan jawaban yang tak rumit. “Kalaupun seluruh tubuh ini dibungkus dengan kain goni,” kata Gee, “namanya lelaki, tetap akan tertarik pada perempuan.” Dan Gee tetap dengan gaya dan penampilannya, dan tetap melebur dalam Islam yang bergolak meski tanpa sebuah bendera bernama PMI maupun PAS.

Kini Gee lebih banyak bekerja dengan aktivis hak asasi manusia. Dia tahu apa artinya kehilangan hak, seperti juga dia tahu bahwa jilbab masih membawa pertanyaan. Ketika Gee masuk ke kawasan Orang Asli yang hak-haknya dikangkangi itu--bahkan oleh Negara--Gee masih saja menerima tatapan mata itu: perempuan berjilbab hendak bela hak? Gee bukan tak tahu, Orang Asli yang “tak beragama” itu akan melihatnya sebagai agen “islamisasi” yang pura-pura murah hati. Gee mengerti, Orang Asli berhak punya tatapan curiga sebegitu--mereka sudah bosan untuk selalu menjadi “objek dakwah”. Mereka butuh hak-haknya kembali diperoleh.

Gee bersikap normal, tak merasa perlu sibuk mengklarifikasi jilbabnya. Sebab ia datang sebagai manusia yang hendak berbuat untuk manusia lainnya. Gee percaya, kelak Orang Asli itu akan mengerti juga: jilbab Gee bukan sebuah ancaman. Ketika Gee bekerja dengan mereka, mendengar keluhan tanah yang dirampas, menyaksikan anak-anak yang kurang makan, melihat adat yang diinjak, dan lalu mengupayakan bantuan sekuat tenaga, mereka akhirnya lupa bahwa ada jilbab di kepala hingga bahu Gee. Yang mereka ingat, Gee adalah manusia.

Mereka mungkin mulai tahu bahwa Gee tak pernah merasa jilbab menjadi wakil dari “Islam yang menghukum”. Islam yang hidup, yang menghargai manusia dengan segala watak manusiawinya, telah menjadi darah Gee. Di suatu siang, awal Juni 2006, di sebuah gedung perkantoran di Kuala Lumpur, Gee sibuk dengan kerja kemanusiaannya. Tapi, coba dengar, dari speaker komputer itu, mengalir lagu rock yang menggebrak. Gee memutar In the Walls punya Stellarstarr, grup musik asal Brooklyn, AS. Di sebelah kiri, tampak sebuah pas masuk konser rock, jejak ketika Gee bertandang di sebuah festival rock di Bangkok. Semua seperti hendak berbisik, “Aku muslim, tapi aku manusia at the first place.” *

More...

Wednesday, September 13, 2006

Headscarves and Muslim Identity

Common Ground News, 5 September 2006
Oleh Mujtaba Hamdi

Headscarves can elicit many questions. Shazeera Ahmad Zawawi, a 27-year-old female Malaysian Muslim, fields them all the time. “Gee”, as Shazeera is known to her friends, is a human rights activist from Malaysia, a country which is racing with enthusiasm toward upholding Islamic law. When attending a human rights conference in Canada, Gee received many looks and questions, “How does your headscarf fit with your human rights activities?”

Those who were asking such a question were clearly surprised to see headscarves at a human rights event. Gee was asked her opinion on human rights issues, including homosexuality, polygamy and women’s rights. There was the suggestion in these questions that her preference to wear headscarves goes against homosexuality, supports polygamy and ignores women’s rights. However, Gee had an answer to their question: “Yes, I am a Muslim, but I’m a human being first.” Gee sees others first as a human being with all of their rights, before their other identities, such as Muslim or Christian.

Perhaps those who were asking this question did not know that Gee was part of a “living” Islam as opposed to a staticone. This living Islam is a religion which comes from her heart in her daily life, a religion which can easily live with diversity, and a religion that prefers to engage in dialogue with the other existing religions. In her own words, “I live in an Islam that does not judge wrong or right.”

From the beginning, Gee has grown up in an atmosphere that is comfortable with opposition. Haji Mahmud, her grandfather, was involved in Parti Kebangsaan Melayu Malaya or Malayan Melayu National Party, a “leftist movement” in the era of colonialism, which combined the spirit of Islam, nationalism and socialism. Gee likewise, when she was waiting for her university entrance examination, preferred to volunteer as an English teacher for children at a program owned by the Parti Islam se-Malaysia or Malaysian Islam Party, the most persevering opposition party in Malaysia.

That opposition’s lively, open-minded debate about Islam is what actually brought Gee to join the PMI, Persatuan Mahasiswa Islam or Islamic Student Association, when she was a student at the University of Malaya.

However, PMI was not the right place for Gee, who was inspired by an open living Islam, as alive as life itself. In PMI, Gee often received reprimands from senior members about her headscarves. The fabric which covered her head was considered not enough to express her “Islamic dress” based on Islamic law. Gee was pressured to wear larger, longer black headscarves which covered all of her head, shoulders and chest. She refused, while the senior members insisted. They argued. Gee was adamant that she felt comfortable with her own headscarves and did not want to change the style.

Gee wanted to show that what was “Islamic” was not the desire to subjugate the “other” or “what is different” to homogeneity, but the act of opening up and accepting diversity as a rich mosaic of Islam. Furthermore, as a human being she also believed that there are many religions which should co-exist in the world, alongside Islam. That was why Gee also refused to join PMI’s demonstration to oppose a music concert on campus. This concert was not a Western style rock concert but one of Indian music. Gee realised those who protested the concert were predominantly afraid that they would lose the “Islamic nature” of the campus.

Now, Gee prefers to work on human rights advocacy for the indigenous people of Malaysia. She is a human being who wants to do something for humanity, not only as a Muslim who helps in the name of her religion. When Gee listens to the story of how the government stole the land of Malaysia’s indigenous population and then stood by to watch its children go hungry and its traditions get lost, she is thought of as a human being and everyone forgets about her headscarf.

Perhaps gradually they begin to realise that Gee lives an open-minded and living Islam, which appreciates human beings with their diversity of race, culture, skin colour and religion. By understanding and appreciating this diversity, we hope more and more people will realise that despite our unique identities, we are all human beings.

At the beginning of June 2006, at an office in Kuala Lumpur, Gee was busy with her humanitarian work. But if you listened carefully, from the loudspeaker of her computer, you could hear rock music fill her room. Gee was playing In the Walls, a rock song from Stellarstarr, a music group from Brooklyn, New York. At the left of her desk, you could see a used rock concert ticket, a souvenir from a rock festival in Bangkok, Thailand. These things serve as a reminder that “Yes, I’m a Muslim, but I’m a human being first.” *

More...

Monday, September 11, 2006

Wahdah

Majalah Syir'ah, Tahannus, September 2006
Oleh Mujtaba Hamdi

Siapa yang tak tersinggung jika tokoh pujaan diobrak-abrik. Nama diplesetkan. Fisik dicibir. Jiwa dibilang tak waras. Tentu darah akan mendidih, macam golak volkanik yang tak tahan hendak menyembur. Akan dicarilah mana-mana yang menjadi biang keladi, dan akan diteriakkan suara dengan dada membusung: kita siap tempur.

Yang diteriaki--masih dengan jubah putih menjuntai hingga tumit, surban meliliti kepala--juga tak gentar. Mereka ini malah sudah biasa meneriaki orang. Pertama-tama dengan suara, cuma suara, yang bergema hingga ke layar kaca dan lembaran kertas bertulis pagi hari. Lalu dengan derap kaki, macam deru serdadu yang siap menyerbu. Sudah itu, mainlah tinju, kayu, palu, tanpa ampun meremukkan segala penjuru. Semua sudah biasa dijalankan, rutin dioperasikan.

Tinggal seinci saja dua tinju nyaris bertemu, ketika nun di sudut lain, kita tahu, ada suara yang seolah gundah, “Mengapa umat Islam tak bisa bersatu? Mengapa tak ada wahdah islamiyyah?” Seolah ada rindu yang lama terpendam, sebuah memori ketika umat masih satu payung, satu suara di bawah naungan Rasulullah. Maka, sebuah ayat pun kembali digaungkan, “Wa'tashimu bihablillahi jami'an wa la tafarraqu. Berpeganglah kuat-kuat pada tali Allah kalian semua, dan jangan bercerai-berai.”

Dari suara itu, kita seperti mendengar sebuah sesal: umat Islam selalu tertinggal hanya sebab suka berantam dengan sesama. Tapi, benarkah yang mendorong rasa sesal itu sungguh sebuah 'kehendak bersatu', cita-cita sebuah 'wahdah'? Kita tahu, semenjak Rasulullah wafat, umat menjadi bercabang-cabang, satu dan lainnya punya tokoh dan pandangan sendiri-sendiri. Setiap cabang punya lagi ranting-ranting, melahirkan tokoh dan pandangan baru lagi. Dan di manakah sebuah wahdah?

Ketika kita mendengar cerita tentang penggal sejarah yang kita sebut Era Keemasan, kita menyaksikan begitu banyak cabang dan ranting. Kelompok menamai diri, atau dinamai, yang menonjolkan beda mereka dengan nama dan kelompok lain. Setiap nama punya keyakinan, yang lahir dari tafsir tentang apa itu firman, apa itu sabda, dan apa pula sejarah. Tapi kita tahu, yang membuat zaman itu menjadi 'emas' adalah lantaran satu cabang tak mematikan cabang lain, malah menghidupkan.

Di zaman itu pula, menjadi luas pengaruh sebuah adagium: “Pendapatku benar tapi mengandung kesalahan. Dan pendapatmu salah tapi mengandung kebenaran.” Sebuah suara yang membiarkan hidupnya 'pendapatmu' dan 'pendapatku', tanpa memperkosanya menjadi 'pendapat kita'.

Dan di manakah sebuah wahdah? Kita kini mudah mengatakan, umat Islam butuh untuk bersatu, tapi kita tak pernah benar-benar tahu, apakah yang kita maksud adalah munculnya sebuah rasa “tubuh yang satu, yang ketika satu bagian tubuh sakit maka bagian yang lain turut mengerang” ataukah sebuah kehendak ambisius melenyapkan 'pendapatmu' atau menekuknya menjadi 'pendapat kita'.

Dan apa yang kita lihat di negeri kita, hari ini? Ketika salat Jumat usai, siang yang terik itu, mulailah mimbar digelar kembali, dengan kerumunan mememenuhi halaman. Melalui corong kecil itu, kembali seruan wahdah keluar. Umat Islam harus bersatu, katanya, tak boleh berpecah-belah, dan siapa yang hendak mengancam kesatuan Islam dan melahirkan perpecahan dalam Islam, hendaknya dimusnahkan.

Kita tahu mana yang disebut 'mengancam kesatuan' dan 'melahirkan perpecahan'. Tak jauh dari masjid itu, ada sebuah kelompok yang merupakan wujud 'pendapatmu'. Ini perlu 'dirapikan' agar tak mengganggu keutuhan 'pendapat kita'. Kita tahu apa yang kemudian terjadi: umat itu, setelah diberi khotbah bersatu, berduyun-duyun meluruk kelompok 'pendapatmu' itu. Menyerang, menendang, menghantam. Inikah sebuah wahdah?

Di banyak tempat lain, seperti telah kita tahu, sebuah seruan wahdah tak pernah merupakan kehendak mencipta rasa 'menjadi tubuh yang satu', melainkan sebuah nafsu menggerus 'pendapatmu', sembari merasa seakan-akan 'pendapatku' telah menjadi 'pendapat kita'. Sekelompok anak muda itu, yang dipimpin kiai muda berwawasan luas, tiba-tiba harus mendapat hantaman—secara harfiah. Hanya karena melakukan sesuatu: bersuara menolak beleid yang meletakkan perempuan seperti barang. Tak ayal, ini menjadi 'pendapatmu' yang harus dilenyapkan demi tegaknya 'pendapat kita'.

Juga sebuah kumpulan cerdik-pandai itu—mereka menyatakan diri menjadi wujud sebuah 'momen bersatu'. Itukah sebuah wahdah? Tak salah bahwa di sana terkumpul berbagai kiai, tuanguru, ustad, ajengan, haji dari macam-macam kelompok yang membawa warna-warni umat. Ada banyak suara menyatu dalam satu corong. Tapi, kita tahu kemudian, kumpulan itu tak lain jadi sebuah palu godam yang meremukkan setiap 'pendapatmu'. Dan yang lahir bukanlah sebuah 'rasa satu tubuh' yang mampu merasakan rasa sakit yang diderita setiap bagian tubuh.

Ayat itu, “wa'tashimu....”, juga dipasang manis di pojok layar maya resmi milik si palu godam, seakan hendak menepuk dada: kamilah wujud 'pegangan pada tali dan tak bercerai-berai' itu. Dan tak perlu berharap mereka mengingat bahwa 'wa la tafarraqu' ala mereka ternyata telah melahirkan sejumlah aksi bakar dan amuk tak terkendali. Apa artinya 'satu' jika akhirnya mencipta sebuah 'cerai-berai'?

Mungkin mereka lupa, atau pura-pura lupa, bahwa 'jangan bercerai-berai' punya makna luas dari yang diduga. Sebuah wahdah, jika kita ingat seorang kiai yang sempat memimpin umat 'tradisional' itu, tak cuma sebuah kesatuan kelompok, melainkan kesatuan seluruh masyarakat, bahkan kesatuan kemanusiaan. Wahdah islamiyyah, wahdah wathaniyah, wahdah basyariyah. Satu seagama, satu setanah-air, dan satu sebangsa-manusia.

Ya, bersatu berarti merasai rasa sakit mereka yang, baik seagama, setanah-air, maupun sebangsa-manusia, seperti rasa sakit tubuh sendiri. Ah, tapi mungkin tidak demikian bagi yang biasa main kayu itu, bersatu berarti: bersama-sama menghalalkan tinju kepada mereka yang tak sepadu.*

More...