Friday, January 12, 2007

Syahwat

Majalah Syir'ah, Tahannus, Januari 2007
Oleh Mujtaba Hamdi

Dari beranda masjid sini, masih tampak jelas huruf cetak di papan tua itu: “Jual Pil Biru. Rahasia Pria Perkasa.” Usai mampir shalat zuhur di masjid sini, cukuplah dengan menyeberang jalan, kita akan sampai di toko penjaja obat kuat itu. Dan jangan kaget, hanya sekitar sepuluh atau lima belas langkah dari situ, kita bisa lihat lagi papan serupa: “Sedia Obat Oles. Besar dan Keras. Tahan Lama.” Sepanjang jalan itu, ternyata, tak sulit mendapatkan teks dengan nada yang sama. Di trotoar jalan. Di pohon-pohon. Di tiang-tiang listrik, tiang telepon. Ada belasan, eh, puluhan—di seperjalanan yang tak lebih dari lima kilometer itu. “Terbukti manjur. Jaminan uang kembali.”

Ada syahwat di sana, sekaligus ada kecemasan. Seorang pria seperti harus merasakan kecemasan itu: runtuhnya syahwat. Macam ada asumsi yang disepakati, bahwa syahwat pria itu tak berpondasi, sehingga rapuh, rawan, mudah ambruk, gampang rontok. Dan karena mudah kempes semacam itu, maka syahwat pria harus terus dipompa, dipompa, dan dipompa. Itu tak cuma terekspresikan di papan-papan pinggir jalan yang ‘liar’, ‘tanpa izin’, ‘tak berkelas’ itu. Tapi juga di baliho-baliho jalan tol, yang dipasang perusahaan-perusahaan advertising bergengsi. Ah, ya, juga di slot-slot iklan teve paling bercitrakan ‘intelektual’ sekalipun. Tentu saja tidak dalam bentuk teks ‘pil biru’, tapi sudah dikemas manis: pembangkit stamina pria. Nadanya juga lebih berkelas: “Langsung action”..

Tapi, apa yang kita dengar di sudut sana? Di sana, di masjid-masjid, di ruang-ruang pengajian, yang dihadiri banyak kaum ibu itu (mungkin juga di masjid seberang penjual ‘pil biru’ itu), ekspresi itu telah berubah, total, seratus delapan puluh derajat. Syahwat pria tak lagi ditampilkan sebagai rapuh-tak berpondasi-gampang kempes, melainkan kokoh-meluap-luap-butuh ditumpahkan. Kita dengar, di sana, sebuah suara bergaung agung: “Zina itu laknat, tapi mendua bukanlah khianat.” Di sana, syahwat pria ditampilkan seperti magma-mendidih, yang cuma ada dua pilihan mengatasi: zina atau mendua. Dan akhirnya, lantaran pilihan pertama itu dosa, tersisa hanya satu jalan keluar, yakni mendua—juga meniga, mengempat.

Lama-lama, sayup-sayup, tapi kemudian makin keras, kata ‘syahwat’ itu telah berubah menjadi ‘malaikat’. Mendua—juga meniga dan mengempat—bukanlah soal syahwat. Ia adalah soal membantu yang lemah, menolong yang tak mampu, menyelamatkan yang sengsara. Harta kian melimpah. Kekayaan terus bertambah. Perusahaan tak henti memproduksi laba. Cabang-cabang perusahaan baru didirikan. Keuntungan berlipat ganda. Sedang di luar sana, bukankah banyak perempuan yang menunggu ‘diberdayakan’, menanti uluran tangan? Bukankah terlalu banyak perempuan, sementara terlalu sedikit pria? Bukankah begitu banyak perempuan lahir, sedang begitu banyak pria tewas? Wajah malaikat seakan tampil, melenyapkan raut syahwat.

Suara itu didengar dengan anggukan, entah karena pasrah atau lantaran gundah. Macam menyimpan pertanyaan tertahan: tapi bukankah syahwat perempuan lebih meluap, meronta-ronta, dan, ya, tanpa perlu dipompa? Sebuah riwayat, konon dari Ali bin Abi Thalib, menuturkan, “Allah Taala menciptakan syahwat dalam sepuluh bagian. Kemudian Dia berikan sembilan bagian untuk perempuan dan satu bagian untuk lelaki.” Seorang perempuan, sudah dari sononya, punya sembilan syahwat. Sedang pria cuma punya satu. Tak heran jika semua pemompa syahwat diperuntukkan kaum pria. Tapi kenapa tak ada cerita tentang perempuan yang harus menumpahkan syahwat yang bahkan sembilan kali lipat pria itu?

Pertanyaan yang hanya tertahan. Di sudut sana, sembari terus disiram kisah tentang syahwat yang menjelma malaikat itu, mungkin berharap ada kisah lain. Tidak terlalu muluk. Bukan menuntut cerita tentang perempuan dengan sembilan pria. Sederhana saja. Kisah tentang perempuan yang sudah cukup sengsara. Dituntut menjaga rapat-rapat sembilan syahwat. Di ruang publik dihambat. Hendak pergi shalat Jumat pun, sudah disekat. Tak boleh terlalu menampakkan hasrat. Harus pemalu. Dandan agak cemerlang, juga dilarang. Lelah, sudah cukup lelah merawat sembilan syahwat.

Juga kisah tentang perempuan yang bisa jaya. Khadijah binti Khuwailid pun seorang perempuan serba ada. Kaya harta. Turunan mulia. Tak sulit jika harus pilih pemuda manapun yang disuka. Dengan sembilan syahwat, limpahan harta, dia hanya memilih satu pria. Tidak adakah kisah sederhana tentang pria yang alergi mendua? Mungkin, kaum ibu di sana, yang masih mendengar ‘siraman rohani’ itu, ingin juga membisikkan kalimat: “Satu syahwat, tak perlu mengeluh enggak kuat. Yang sembilan saja tidak khianat.”

Namun bisikan kalimat itu mungkin juga tersekat. Terlalu gemuruh kisah tentang satu syahwat yang menuntut empat. Mungkin juga mustahil mendengar kisah ‘perlawanan’ seorang Rabiah—seorang perempuan yang mampu membalik makna. Syahdan, di hari yang biasa, Rabiah al-Adawiyah, sang sufi agung itu, didatangi Ibrahim bin Adham. “Berapa syahwat yang dimiliki pria, seperti engkau?” tanya Rabiah kepada Ibrahim.

Ibrahim, yang juga tokoh sufi terkemuka, menjumpai Rabiah memang tidak untuk berdiskusi, melainkan melamar, memperistri. Maka Rabiah merasa perlu bertanya. Dan Ibrahim tentu dengan mudah menjawab. “Pria memiliki satu syahwat, dan sembilan akal.”

Masih satu pertanyaan lagi dari Rabiah. “Lalu berapa syahwat yang dimiliki perempuan, seperti aku?” Lagi-lagi, secara enteng Ibrahim menjawab, “Perempuan memiliki sembilan syahwat, dan satu akal.”

Mungkin Ibrahim tak menduga ketika Rabiah kemudian menimpali, “Alangkah lemahnya engkau, Ibrahim. Aku yang memiliki sembilan syahwat, mampu menahan diri tidak kawin, hanya dengan satu akal. Sedangkan engkau, yang cuma punya satu syahwat, tidak mampu menahan diri, meski dengan sembilan akal.”

Ibrahim terdiam, dan kembali, tanpa memperoleh hasil yang dibayangkan.

Hari ini, kisah itu akan mustahil diceritakan kembali dengan penuh semangat. Tak akan ada yang dengar. Sebab kisah hari ini bukan kisah tentang akal yang menundukkan, tapi yang melipatgandakan, syahwat. Dengan sembilan akal, syahwat yang satu tidak cuma berlipat sembilan—sebesar syahwat milik perempuan. Lebih, lebih dari itu, sembilan akan mengganda empat kali lagi. Akal selalu punya cara. Pertama, dengan mengganti wajah syahwat menjadi malaikat. Dan kedua tentu (atau meski?) dengan terus memompa, memompa, dan memompa, dengan medium dan kelas yang juga bisa dipilih: mau yang ‘langsung greng’ atau, sedikit tidak murahan, ‘langsung action’. *

5 comments:

arman said...

Waduh...postingan ini OK banget.

Lam kenal boss. Wassalaam.

Anonymous said...

kok lama banget nggak ada postingan tho pak? sibuk jalan-jalan mulu sich :))

Anonymous said...

Salam,

Mas Hamdi kenalkan aku santribuntet izin memasukkan artikel lucu Anda yang menarik untuk dilirik tanpa perlu dikritik sebab takut kecekik.

artikel ini untuk www.buntetpesantren.com

terima kasih
wassalam

Imam Shofwan said...

YA Nich lama nga posting. Aku izin ngeling blogmu ya bos?

bungimam.blogspot.com

Mujtaba Hamdi said...

Boleh, boleh. Iya nih, kepalanya lagi dipenuhin banyak hal. Jadi off dulu untuk sementara. Mudah-mudahan awal 2008 lancar lagi. -taba